Social Icons

Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Sep 27, 2013

KIAT-KIAT MENGURANGI LUPA DALAM BELAJAR PART 2

KIAT-KIAT MENGURANGI LUPA DALAM BELAJAR PART 2
Anak Hebat, sesuai komitmen saya bahwa pembahasan tentang kiat-kiat mengurangi lupa dalam belajar akan kita lanjutkan dalam tulisan berikutnya yakni dalam KIAT-KIAT MENGURANGI LUPA DALAM BELAJAR PART 2

Kini dalam tulisan yang and baca sekarang, anda akan bisa menemukan beberapa kiat yang mudah-mudahan bisa membantu anda dalam menangani kasus yang menjengkelkan bernama “LUPA”. Maka perhatikan baik-baik dan sebutlah dengan nama Tuhanmu sebelum membaca pada paragraf berikutnya, jika telah anda lakukan, saya ucapkan selamat membaca… 


Dapatkah kita mencegah peristiwa lupa yang sering kita alami? Lupa itu manusiawi dan mungkin kita tak akan mampu mencegahnya. Namun, sekadar berusaha mengurangi proses terjadinya lupa yang sering kita alami dapat kita lakukan dengan berbagai kiat.

Pada prinsipnya, apabila materi pelajaran yang di sajikan dapat kita serap, diproses, dan disimpan dengan baik oleh sistem memori kita, peristiwa lupa yang menjengkelkan semua pihak itu mungkin tidak terjadi, atau terjadi namun tidak total. Masalah kita sekarang ialah bagaimana kiat membuat sistem memori/akal kita berfungsi optimal dalam memperoses materi pelajaran yang disajikan.

Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal kita. Banyak ragam kiat yang dapat di coba oleh kita dalam meningkatkan daya ingat, antara lain menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990), adalah sebagai berikut:

1. Overlearning
Overlearning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah kita melakukan pembelajaran atas respons tersebut dengan cara diluar kebiasaan. Banyak contoh yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain pembacaan teks Pancasila pada setiap hari Senin dan Sabtu memungkinkan ingatan kita terhadap materi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) lebih kuat.

2. Ekstra study time
Ekstra study time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi (kekerapan) aktivitas belajar. Penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti menambah jam belajar, misalnya satu jam menjadi satu setengah jam. Penambahan frekuensi belajar berarti meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu, misalnya dari sehari sekali menjadi dua kali sehari. Kiat ini di pandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan.

3. Mnemonic device
Mnemonic device (muslihat memori) yang sering juga hanya disebut mne-monic itu berarti kiat khusus yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal kita. Muslihat mnemonic ini banyak ragamnya, tetapi yang paling menonjol akan saya uraikan di bawah ini.
  • Rima (Rhyme), yakni sajak yang di buat sedemikian rupa yang isinya terdiri atas kata dan istilah yang harus kita ingat. Sajak ini akan lebih baik pengaruhnya apabila diberi not-not sehingga dapat dinyanyikan. Nyanyian anak-anak TK yang berisi pesan-pesan moral dapat di ambil sebagai contoh penyusunan rima mnemonic.
  • Singkatan, yakni terdiri atas huruf-huruf awal nama atau istilah yang harus kita ingat. Misalnya, kita menghafal nama-nama Rasul yang Ulul Azmi yakni Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad saw, yang disingkat menjadi NIMIM. Pembuatan singkatan-singkatan sebaiknya dilakukan sedemikian rupa sehingga menarik dan memiliki kesan tersendiri.
  • Sistem kata pasak (peg word system), yakni sejenis teknik mnemonic yang menggunakan komponen-komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak (paku) pengait memori baru. Kata komponen pasak ini di bentuk berpasangan seperti merah-saga, panas-api, dan lainnya. Kata-kata ini berguna untuk mengingat kata dan istilah yang memiliki watak yang sama seperti: darah, lipstick; pasangan langit dan bumi; neraka, dan kata/istilah lain yang memiliki kesamaan watak (warna, rasa, dan seterusnya).
  • Metode Losai, yaitu kiat mnemonic yang menggunakan tempat-tempat khusus terkenal sebagai sarana penempatan kata dan istilah tertentu yang harus kita ingat. Kata “loci” sendiri adalah jamak dari kata “locus” artinya tempat. Dalam hal ini, nama-nama kota, jalan, gedung terkenal dapat dipakai untuk menempatkan kata dan istilah yang kurang lebih relevan dalam arti memiliki kemiripan ciri dan keadaan. Contoh: nama ibukota USA untuk mengingat presiden pertama Negara itu (George Washington); dan gedung bundar untuk mengingat nama jaksa agung.
  • Sistem kata kunci. Kiat mnemonic yang satu ini relatif tergolong baru di banding dengan kiat-kiat mnemonic lainnya. Kiat ini mula-mula dikembangkan pada tahun 1975 oleh dua orang pakar psikologi, Raugh dan Atkinson (Barlow, 1985). Sistem kata kunci biasanya direkayasa secara khusus untuk mempelajari kata dan istilah asing, dan konon cukup efektif untuk pengajaran bahasa asing seperti bahasa inggris. Sistem ini berbentuk daftar kata yang terdiri atas unsur-unsur sebagai berikut: 1) kata-kata asing; 2) kata-kata kunci, yakni kata-kata bahasa lokal yang paling kurang suku pertamanya memiliki suara/lafal yang mirip dengan kata yang dipelajari; 3) arti-arti kata asing tersebut.

4. Pengelompokan
Maksud kiat pengelompokan ialah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang di anggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikansi dan lafal yang sama atau sangat mirip. Pengelompokkan ini direkayasa sedemikian rupa dalam bentuk daftar-daftar item materi seperti:
  • Daftar I terdiri atas nama-nama Negara serumpun: Indonesia, Malaysia, Brunei, dan seterusnya;
  • Daftar II terdiri atas singkatan-singkatan lembaga-lembaga Negara: MPR, DPR, dan seterusnya;
  • Daftar III terdiri atas singkatan-singkatan nama-nama badan internasional: WHO, ILO, dan sebagainya.

5. Pengaruh letak bersambung
Untuk memperoleh efek positif dari pengaruh letak bersambung, kita di anjurkan menyusun daftar kata-kata (nama, istilah, dan sebagainya) yang di awali dan di akhiri dengan kata-kata yang harus diingat. Kata-kata yang harus diingat tersebut sebaiknya di tulis dengan menggunakan huruf dan warna yang mencolok agar tampak sangat berbeda dari kata-kata yang lainnya yang tidak perlu diingat. Dengan demikian, kata yang ditulis pada awal dan akhir daftar tersebut memberi kesan tersendiri dan diharapkan melekat erat dalam subsistem akal permanen kita.

Selanjutnya, apa kiat-kiat yang kamu dapat lakukan dalam mengurangi lupa? Apakah kamu memiliki kiat-kiat mengurangi lupa dalam belajar lainnya? Tentunya setiap orang pasti punya cara tersendiri. Namun mudah-mudahan kiat-kiat mengurangi lupa dalam belajar yang saya sampaikan di atas, bisa membantu anda walaupun kurang maksimal atau mungkin tidak terlalu jitu. Akhirnya hanya dengan usaha keras yang tanpa kenal lelah, sabar dan sungguh-sungguh dalam belajar lalu diiringi do’a pada Allah SWT adalah upaya terbaik bagi kita semua dalam menuntut ilmu.

Salam Sejuta Motivasi!

Sep 25, 2013

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Seseorang

Setiap organisme, baik manusia maupun hewan, pasti mengalami peristiwa perkembangan dalam hidupnya. Perkembangan ini meliputi seluruh bagian dengan keadaan yang dimiliki oleh organisme tersebut, baik yang bersifat konkret maupun yang bersifat abstrak. Jadi, arti peristiwa perkembangan itu khususnya perkembangan manusia tidak hanya tertuju pada aspek psikologis saja, tetapi juga aspek biologis. Pada tulisan singkat ini saya akan menjelaskan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan seseorang

Secara singkat, perkembangan adalah proses atau tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju. Pertumbuhan sendiri berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti pentingnya. Pertumbuhan juga dapat berarti sebuah tahapan perkembangan ( a stage of development). [McLeod, 1989].

Dalam mempelajari perkembangan manusia diperlukan adanya perhatian khusus mengenai hal-hal sebagai berikut:

1. Proses pematangan, khususnya pematangan fungsi kognitif;
2. Proses belajar;
3. Pembawaan atau bakat.

Ketiga hal ini berkaitan erat satu sama lain dan saling berpengaruh dalam perkembangan kehidupan manusia. Apabila fungsi kognitif, bakat dan proses belajar seseorang dalam keadaan positif, hampir dapat dipastikan orang tersebut akan mengalami proses perkembangan kehidupan secara mulus. Akan tetapi, asumsi yang "menjanjikan" seperti ini sebenarnya belum tentu terwujud, karena banyak faktor yang berpengaruh terhadap proses perkembangan seseorang dalam menuju cita-cita bahagianya.

Adapun mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan seseorang, para ahli berebeda pendapat lantaran sudut pandang dan pendekatan mereka terhadap eksistensi seseorang tidak sama. Untuk lebih jelasnya, berikut ini sedikit pemaparan mengenai aliran-aliran yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan siswa.

a. Aliran Nativisme
Nativisme adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh cukup besar. Tokoh utama aliran bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Aliran ini konon dijuluki sebagai aliran pesimistis yang memandang segala sesuatu dengan kacamata hitam. Mengapa demikian? Karena para ahli penganut aliran ini berkeyakinan bahwa perkembangan manusia itu ditentunkan oleh pembawaannya, sedangkan pengalaman dan pendidikan tidak berpengaruh apa-apa. Dalam ilmu pendidikan, pandangan seperti ini disebut “ pesimisme pedagogis “.

Sebagai contoh, jika sepasang orangtua ahli musik, maka anak-anak yang mereka lahirkan akan menjadi pemusik pula. Harimau pun hanya akan melahirkan harimau, tak akan pernah melahirkan Domba. Jadi, pembawaan dan bakat orangtua selalu berpengaruh mutlak terhadap perkembangan kehidupan anak-anaknya. Benarkah anggapan semacam ini dapat terus bertahan?, jika benar lalu bagaimana jika kita perhatikan contoh berikut ini. Sepasang suami-istri yang memiliki keistimewaan di bidang politik, tentu anaknya menjadi politikus pula. Namun, apabila lingkungan, khususnya lingkungan pendidikannya tidak menunjang, misalnya karena ia memasuki sekolah pertanian, sudah tentu ia tak akan pernah menjadi politisi tetapi petani.

Aliran nativisme hingga kini masih cukup berpengaruh di kalangan beberapa orang ahli, tetapi sudah tidak semutlak dulu lagi. Di antara ahli yang dipandang sebagai nativis adalah Noam A. Chomsky kelahiran 1928, seorang ahli linguistik yang terkenal hingga saat ini. Chomsky menganggap bahwa perkembangan penguasaan bahasa pada manusia tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh proses belajar, tetapi juga yang lebih penting oleh adanya kecenderungan biologis yang di bawa sejak lahir.

b. Aliran Empirisisme
Kebalikan dari aliran nativisme adalah aliran empirisisme dengan tokoh utama John Locke (1632-1704). Nama asli aliran ini adalah “The school of British Empiricism” (aliran empirisisme Inggris). Namun aliran ini lebih berpengaruh terhadap para pemikir Amerika Serikat, sehingga melahirkan sebuah aliran bernama “environmentalisme” (aliran lingkungan) yang relatif masih baru (Reber, 1988).

Doktrrin aliran empirisisme yang amat masyhur adalah “tabula rasa”, sebuah istilah bahasa Latin yang berarti batu tulis kosong atau lembaran kosong. Doktrin ini menekankan arti penting pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam arti perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan dan pengalaman pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir di anggap tidak ada pengaruhnya. Dalam hal ini, para penganut empirisisme menganggap setiap anak lahir seperti tabula rasa, dalam keadaan kosong, tak punya kemampuan dan bakat apa-apa. Hendak menjadi apa seorang anak kelak bergantung pada pengalaman/lingkungan yang mendidiknya.

Jika seseorang memperoleh kesempatan yang memadai untuk mempelajari ilmu politik, tentu kelak ia akan menjadi seorang politisi. Karena ia memiliki pengalaman belajar di bidang politik, ia tak akan pernah jadi pemain bola, walaupun orangtuanya seorang atlet dunia semisal Cristiano Ronaldo.

Memang amat sukar dimungkiri bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap proses perkembangan dan masa depan seseorang. Dalam hal ini, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sekitar telah terbukti menentukan tinggi rendahnya mutu perilaku dan masa depan seseorang. Kondisi sebuah kelompok masyarakat yang berdomisili di kawasan kumuh dengan kemampuan ekonomi di bawah garis rata-rata dan tanpa fasilitas umum seperti masjid, sekolah, dan lapangan olah raga telah terbukti menjadi lahan yang subur bagi pertumbuhan anak-anak nakal. Anak-anak dilingkungan seperti ini memang tak punya cukup alas an untuk tidak menjadi brutal, lebih-lebih apabila kedua orangtuanya kurang atau tidak berpendidikan.

Namun demikian, perlu juga di kemukakan sebuah ironi faktual, yakni diantara anak-anak yang di juluki nakal dan brutal khususnya di kota-kota ternyata cukup banyak yang muncul dari kalangan keluarga berada, terpelajar, dan bahkan taat beragama. Sebaliknya, tidak sedikit anak pintar dan berakhlak baik yang lahir dari keluarga bodoh dan miskin atau bahkan dari keluarga yang tidak harmonis disamping bodoh dan miskin. Jadi, sejauh manakah validitas doktrin empirisisme yang telah memunculkan “optimism pedagogis” itu dapat bertahan?

c. Aliran Konvergensi
Aliran konvergensi merupakan gabungan antara aliran empirisisme dengan aliran nativisme. Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia. Tokoh utama konvergensi bernama Louis William Stern (1871-1938) seorang filsof dari Jerman.

Dalam menetapkan faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia, Stern dan para ahli yang mengikutinya tidak hanya berpegang pada lingkungan/pengalaman juga tidak berpegang pada pembawaan saja, tetapi berpegang pada kedua faktor yang sama pentingnya itu. Faktor pembawaan tidak berarti apa-apa jika tanpa faktor pengalaman. Demikian pula sebaliknya, faktor pengalaman tanpa faktor bakat pembawaan tak akan mampu mengembangkan manusia yang sesuai dengan harapan.

Para penganut aliran ini, berkeyakinan bahwa baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan andilnya sama besar dalam menentukan masa depan seseorang. Jadi, seseorang yang lahir dari keluarga santri atau kiayi, umpamanya, kelak ia akan menjadi ahli agama apabila ia di didik di lingkungan pendidikan keagamaan. untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut:

Seorang anak yang normal pasti memiliki bakat untuk berdiri tegak di atas kedua kakinya. Tetapi apabila anak tersebut tidak hidup di lingkungan masyarakat manusia, misalnya kalau dia di buang ke tengah hutan belantara dan tinggal bersama hewan, maka bakat berdiri yang ia miliki secara turun-temurun dari orangtuanya itu, akan sulit diwujudkan. Jika anak tersebut diasuh oleh sekelompok kera, tentu ia akan berjalan di atas kedua kaki dan tangannya. Dia akan merangkak seperti kera pula. Jadi, bakat dan pembawaan dalam hal ini jelas tidak ada pengaruhnya apabila lingkungan atau pengalaman tidak mengembangkannya.

Sampai sejauh manakah pengaruh pembawaan jika dibandingkan dengan lingkungan terhadap perkembangan masa depan seseorang?, jawabannya mungkin berbeda dari setiap orang. Sebagian orang mungkin lebih banyak ditentukan oleh faktor lingkungannya. Namun dalam hal pembawaan yang bersifat jasmaniah hampir dapat dipastikan bahwa semua orang sama, yakni akan bentuk badan, berambut, dan bermata sama dengan kedua orangtuanya. Sebagai contoh, anak-anak keturunan Barat umumnya berambut pirang, berkulit putih, bermata biru, dan berperawakan tinggi besar, karena memang warisan orangtua dan nenek moyangnya demikian. Akan tetapi, dalam hal pembawaan yang bersifat rohaniah sangat sulit kita kenali. Banyak orang yang ahli di bidang “X” tetapi anaknya ahli di bidang “Y”. Anak ini sudah di usahakan agar mempelajari bidang “X” supaya sama dengan orang tuanya, tetapi ia menolak dan menunjukkan kecenderungan bakat “Y”. Ternyata setelah mengikuti pengajaran bidang “Y”, anak yang berasal dari keturunan yang ahli di bidang “X” itu benar-benar ahli di bidang “Y” bukan bidang “X”. Apakah anak tersebut telah menyalahi bakat dan pembawaan keturunannya?.

Banyak bukti yang menunjukkan, bahwa watak dan bakat seseorang yang tidak sama dengan orang tuanya itu, setelah di telusuri ternyata watak dan bakat orang tersebut sama dengan kakek atau ayah/ibu kakeknya. Dengan demikian, tidak semua bakat dan watak seseorang dapat di turunkan langsung kepada anaknya, tapi mungkin kepada cucunya atau anak-anak cucunya. Alhasil, bakat dan watak dapat tersembunyi sampai beberapa generasi. Lalu bila demikian apakah aliran konvergensi sebagaimana tersebut di atas dapat kita jadikan pedoman dalam arti bahwa perkembangan seseorang pasti bergantung kepada pembawaan dan lingkungan pendidikannya? Samapai batas tertentu aliran ini dapat kita terima, tetapi tidak secara mutlak. Sebab masih ada satu hal lagi yang perlu kita ingat yakni potensi tertentu yang juga tersimpan rapi dalam diri setiap orang dan sulit diidentifikasi.

Dari seluruh uraian di atas, yang berhubungan dengan proses perkembangan dapat di simpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi-rendahnya mutu hasil perkembangan seseorang pada dasarnya terdiri atas dua macam:

1. Faktor Intern, yaitu faktor yang ada dalam diri setiap individu yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri.

2. Faktor Eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada di luar stiap individu yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi orang tersebut dengan lingkungannya.

Wallahu’alam….

Di tulis dari buku “Psikologi Pendidikan” karangan Prof. Dr. Muhibbin Syah.

Sep 20, 2013

Tantangan Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi

Tantangan Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi
Zaman sekarang, globalisasi menjadi hal yang pasti dan tidak dapat kita hindari. Perkembangan zaman terus menggilas kebutuhan manusia, sehingga banyak di temukan masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan moralitas dan pendidikan, terutama di wilayah perkotaan. Jika kita perhatikan, pendidikan modern saat ini memiliki kedudukan yang tepat dan dapat di unggulkan, akan tetapi jika di lihat nilai spiritualnya sangat mengkhawatirkan khususnya bagi umat Muslim.

Proses Pendidikan yang berasal dari kebudayaan, berbeda dengan kenyataan pendidikan saat ini yang cenderung mengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukan suatu perubahan paradigma dari pendidikan untuk menghadapi proses globalisasi.

Pada paradigma lama, upaya pendidikan lebih cenderung sentralistik. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan. Sebaliknya, peran institusi pendidikan dan institusi non-pendidikan masih lemah. Sementara pada paradigma baru, orientasi pendidikan lebih cenderung pada desentralistik, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat holistik; artinya pendidikan ditekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu kedalam kemajemukan budaya, kemajemukan berfikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum. Pada paradigma baru ini terjadi peningkatan peran serta masyarakat secara kualitatif dan kuatitatif dalam upaya pengembangan pendidikan,pemberdayaan institusi masyarakat, seperti keluarga, LSM, pesantren, dunia usaha, lembaga kerja, dan pelatihan, dalam upaya pengelolaan dan pengembangan pendidikan, yang diorientasikan pada terbentuknya masyarakat madani.

Berdasarkan pandangan ini, pendidikan Islam harus di upayakan untuk:
  1. Mengalihkan paradigma yang berorientasi ke masa lalu (abad pertengahan) pada paradigma yang berorientasi ke masa depan, yaitu mengalihkan dari paradigma pendidikan yang hanya mengawetkan kemajuan, kepada paradigma pendidikan yang merintis kepada kemajuan.
  2. Mengalihkan paradigma yang berwatak feudal kepada paradigma pendidikan yang berjiwa demokratis.
  3. Mengalihkan paradigma dari pendidikan sentralisasi kepada paradigma pendidikan desentralisasi, sehingga menjadi pendidikan Islam yang kaya dalam keberagaman, dengan titik berat pada peran masyarakat dan peserta didik.
Oleh karena itu, dalam proses pendidikan, perlu dilakukan kesetaraan perlakuan sektor pendidikan dengan sektor lain, pendidikan yang berorientasi rekonstruksi sosial, pemberdayaan umat dan bangsa, serta pemberdayaan infrastruktur sosial untuk kemajuan pendidikan islam. Selain itu, pembentukan kemandirian dan keberdayaan untuk mencapai keunggulan, penciptaan iklim yang kondusif untuk tumbuhnya toleransi dan konsensus dalam kemajemukan. Dari pandangan ini, jelas bahwa dalam pendidikan islam diperlukan perencanaan terpadu secara horizontal (antarsektor) dan vertikal (antar jenjang-bottom-up dan top-down planning), dan berorientasi pada peserta didik, bersifat multikultural dengan perspektif global.

Rumusan paradigma pendidikan tersebut memberikan arah sesuai dengan arah pendidikan, yang secara makro dituntut mengantarkan masyarakat menuju masyarakat madani yang demokratis, religius, dan tangguh menghadapi lingkungan global. Untuk itu, dalam upaya pembaruan pendidikan Islam, diperlukan strategi kebijakan perubahan untuk menangkap kesempatan perubahan tersebut. Pendidikan Islam harus meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru.

Dengan paradigma baru tersebut, pendidikan Islam harus dapat mengembangkan kemampuan dan tingkah laku manusia yang dapat menjawab tantangan internal dan tantangan global menuju masyarakat madani. Pendidikan harus dikembangkan berdasarkan tuntutan acuan perubahan tersebut dan berdasarkan karakteristik masyarakat madani yang demikratis. Untuk menghadapi kehidupan global, proses pendidikan Islam harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi, kemampuan kerjasama, mengembangkan sikap inovatif, serta meningkatkan kualitas. 

Dengan acuan ini, secara pasti akan terjadi pergeseran paradigma pendidikan, sehingga kebijakan dan strategi pengembangan pendidikan mampu untuk menangkap dan memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan tersebut. Apabila tidak, pendidikan Islam akan menjadi pendidikan yang “termarginalkan” dan tertinggal di tengah-tengah kehidupan masyarakat global.

Pergeseran drastis paradigma pendidikan sedang terjadi, dengan terjadinya aliran informasi dan pengetahuan yang begitu cepat dengan efisiensi penggunaan jasa teknologi informasi internet yang memungkinkan tembusnya batas-batas dimensi ruang, birokrasi, kemampuan, dan waktu. Pergeseran paradigma tersebut juga didukung dengan adanya kemauan dan upaya untuk melakukan reformasi total di berbagai aspek kehidupan bangsa dan Negara menuju masyarakat madani, termasuk pendidikan. Oleh karena itu pergeseran paradigma pendidikan juga di akui sebagai konsekuensi logis dari perubahan masyarakat, yaitu berupa keinginan untuk mengubah kehidupan masyarakat yang demokratis, berkeadilan, mengargai HAM, taat hukum, menghargai perbedaan dan terbuka menuju masyarakat madani.

Selanjutnya, terjadi perubahan paradigma pendidikan juga merupakan akibat dari percepatan aliran ilmu pengetahuan yang akan menantang sistem pendidikan konvensional yang antara lain sumber ilmu pengetahuan tidak lagi terpusat pada lembaga pendidikan formal yang konvensional. Sumber ilmu pengetahuan akan tersebar dimana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh pengetahuan. Paradigma ini dikenal sebagai distributed intelligence (distributed knowledge).

.Kondisi ini akan berpengaruh pada fungsi tenaga pendidik (guru dan dosen) dan lembaga pendidikan yang “akhirnya” beralih dari sebuah sumber ilmu pengetahuan menjadi “mediator” dari ilmu pengetahuan tersebut. Proses pendidikan seumur hidup (long life learning) dalam duniapendidikan informal yang sifatnya lebih learning based daripada teaching based akan menjadi kunci perkembangan sumber daya manusia. Peranan web, homepage, CD-ROM mempercepat proses distributed knowledge. Hal ini secara langsung akan menentang sIstem kurikulum yang rigid dan sifatnya terpusat dan mapan yang kini lebih banyak dianut dan lebih difokuskan pada pengajaran dan kurang pada pendidikan. Ilmu pengetahuan akan terbentuk secara kolektif dari banyak pemikiran yang sifatnya konsensus bersama dan tidak terikat pada dimensi birokrasi atau struktural.

Dengan demikian, pendidikan Islam harus mulai berbenah diri dengan menyusun strategi untuk menyongsong dan menjawab tantangan perubahan tersebut. Apabila tidak, pendidikan Islam akan tertinggal dalam persaingan global. Untuk itu, pendidikan Islam harus memerhatikan beberapa ciri yaitu:
  • Lebih diorientasikan atau menekankan upaya proses pembelajaran daripada mengajar;
  • Diorganisasikan dalam suatu struktur yang lebih bersifat fleksibel;
  • Memeprlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri;
  • Menjadi proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan.
Keempat ciri ini, disebut dengan paradigma pendidikan sistematis-organik yang menuntut pendidikan bersifat double tracks, artinya pendidikan sebagai suatu proses yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakat.

sumber: curhat-santri.blogspot.com

Sep 15, 2013

Membina dan Mengembangkan Sumber Kecakapan Manusia Secara Islami

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya..” 
(QS. At-Tiin:4)

Selain mendapatkan kepercayaan dari Allah SWT sebagai khairu ummah, kita juga diciptakan oleh Allah SWT sebagai sebaik-baik makhluk, sebaik-baik bentuk, sebaik-baik kondisi, dan sebaik-baik sarana. Ada potensi dahsyat dan hebat yang Allah berikan sebagai modal dasar kita sebagai manusia. Tetapi, modal dasar tersebut tidak akan berfungsi secara optimal selama kita tidak mendayagunakannya.

Sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia, bahwa diri kita terdiri dari tiga dimensi, yakni Jasad, Akal, dan Ruh. Ketiga dimensi yang ada dalam diri kita ini harus di pelihara agar seimbang (tawazun)

Jika diri kita hanya memelihara fisik saja, sementara akal dan ruh kita tidak di perhatikan, maka kita hanya akan memiliki fisik atau jasad yang kuat, sedangkan hati kita kering dan gersang. Sehingga hidup kita akan terasa hampa dan tidak tenteram. 

Begitu juga halnya jika kita hanya mengasah kemampuan otak saja, sedangkan fisik dan ruhani tidak dijaga, maka kita ini ibarat orang yang memiliki pengetahuan, tetapi jasad kita sering sakit-sakitan, hatipun tidak tenteram dan ruhani kita akan tumpul. 

Demikian pula jika kita hanya menerima santapan ruhani, sedangkan fisik kita lemah, makanan tidak dijaga, dan akal tidak di isi dengan ilmu yang bermanfaat, maka kehidupan kita akan menjadi timpang.

Penjelasan di atas menggambarkan betapa pentingnya kita menyeimbangkan tiga aspek yang menjadi sumber kecakapan bagi manusia, yakni Jasad (psikomotorik), akal (kognitif), dan ruh (afektif) yang mesti kita kembangan agar lahir kecakapan yang di harapkan serta memberi manfaat bagi diri kita maupun orang lain. Lalu bagaimana tips atau cara mengembangkan tiga aspek sikap tersebut, berikut saya jelaskan secara ringkas satu per satu:

1. Mengembangkan Pola Pikir (Kognitif)
Akal adalah karunia Allah yang amat besar bagi manusia.Karena memiliki fungsi yang amat sentral.Selain itu, akal adalah pembeda antara manusia dan binatang. Dengan akal pula manusia akan mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari diciptakannya langit dan alam semesta.

Membina pola pikir/kognitif, yakni membina kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam sebagai penjabaran dari sifat Fathonah Rasulullah. Seorang yang Fathonah itu tidak saja cerdas, tetapi juga memiliki kebijaksanaan atau kearifan dalam berfikir dan bertindak. Mereka yang memiliki sifat Fathonah mampu menangkap gejala dan hakikat di balik semua peristiwa. Mereka mampu belajar dan menangkap peristiwa yang ada disekitarnya, kemudian menyimpulkannya sebagai pengalaman berharga dan pelajaran yang memperkaya khazanah intelektualnya. Mereka tidak segan untuk belajar dan mengajar, karena hidup hanya akan semakin berbinar ketika seseorang mampu mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa tersebut.

Untuk bisa mewujudkan konsep pembinaan intelektual dalam Islam ini, maka harus di susun beberapa kaidah agar bisa memudahkan kita dalam membina seseorang dengan ilmu dan pemikiran yang benar. Hafiz mengemukakan pola pembinaan akal dalam membentuk pola pikir seseorang dari kecil hingga dewasa diawali dengan:
  1. Menanamkan kecintaan anak kepada ilmu,
  2. Membimbing anak menghafal sebagian ayat Al-Quran,
  3. Mengajarkan anak bahasa Arab dan bahasa asing lainnya, dan
  4. Mengarahkan anak pada kecenderungan bakatnya.
Pengaturan kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri; orang yang mempunyai kemahiran ini, mampu mengontrol dan menyalurkan aktivitas kognitif yang berlangsung dalam dirinya sendiri. Bagaimana dia memusatkan perhatian; bagaimana dia belajar; bagai mana dia menggali dari ingatan; bagai mana dia menggunakan pengetahuan yang dimilikinya, khususnya bila menghadapi masalah.

Dari Ibn Abbas r.a. Rasulullah saw bersabda: “Ajarilah anak-anakmu, mudahkanlah mereka dan jangan kau persulit, berilah kabar gembira kepada mereka, dan janganlah engkau menjadikan mereka lari meninggalkanmu. Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka diamlah”. (HR. Bukhari, Ahmad, Ibnu A’diy, Qushabi, dan Ibn Syahnin).

2. Mengembangkan Sikap (Afektif)

Afektif, yakni pembinaan sikap mental (mental attitude) yang mantap dan matang sebagai penjabaran dari sikap amanah Rasulullah. Indikator dari seseorang yang mempunyai kecerdasan ruhaniah adalah sikapnya yang selalu ingin menampilkan sikap yang ingin dipercaya (kredibel), menghormati dan dihormati. Sikap hormat dan dipercaya hanya dapat tumbuh apabila kita meyakini sesuatu yang kita anggap benar sebagai prinsip-prinsip yang tidak dapat di ganggu gugat.

Mengajarkan sikap lebih pada soal memberikan teladan, bukan pada tataran teoritis. Memang untuk mengajarkan seseorang bersikap, kita perlu memberikan pengetahuan sebagai landasan. Tetapi proses pemberitahuan ini harus ditindak-lanjuti dengan contoh.

Belajar sikap, berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima atau menolak suatu objek, berdasarkan penilaian terhadap objek itu sebagai hal yang berguna/berharga (sikap positif) atau tidak berguna/berharga (sikap negatif).

Terdapat proses yang terjadi pada seseorang untuk memunculkan sikap yang positif maupun negatif, di antaranya:
1. Proses Pengkondisian
Proses pembentukan sikap melalui pengkondisian ini telah banyak di eksperimenkan oleh para ahli psikolog. Misalnya Pavlov dengan teorinya stimulus responddan Skinner dengan teorinya reinforcement yang dalam eksperimennya terhadap manusia lebih di kenal dengan nama “behavior modification”.

Terlepas dari teori yang dikemukaan oleh para ahli di atas, proses pengkondisian itu memang perlu dilakukan dalam pelekatan (internalisasi) nilai-nilai ajaran Islam. Proses pengkondisian ini telah di contohkan oleh Rasulullah ketika kota Mekah tidak lagi memungkinkan untuk penyebaran dan penegakan ajaran Islam, maka beliau hijrah ke Madinah. Disanalah beliau memupuk keimanan para sahabatnya, disanalah beliau menanamkan rasa persaudaraan, tenggang rasa, empati, kasih sayang, pengendalian diri, komitmen dan antisipatif, sportif dan terbuka.

2. Belajar dari Model
Pertunjukkan tingkah laku tertentu yang dimunculkan oleh seseorang yang dihormati, dikagumi dan dipercayai oleh kita, senantiasa akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita. Kita yang menyaksikan tingkah laku tersebut akan cenderung menirunya (imitasi) dan berbuat yang sama. Kita akan cederung berbuat sama manakala model tersebut sekaligus mendapat umpan balik dari orang ketiga yang memuji tindakan itu. Prinsip modeling ini sejalan dengan ungkapan Ki Hajar Dewantara “ing ngarsa sung tulada”.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat diperkirakan peranan dan wujud beberapa fase dalam pembelajaran sikap atau tekanan yang harus diberikan pada hal-hal tertentu, yaitu: Pemotivasian, berperan dalam rangka belajar menurut pola pengkondisian. Pengkonsentrasian, perlu mendapat tekanan dalam belajar dari model. Pengolahan, mencernakan penjelasan verbal yang menyertai teladan yang diberikan oleh model atau menyertai izin untuk berbuat sesuatu yang disenangi, setelah seseorang menunjukkan prestasi. Umpan balik, Kita mendapat konfirmasi mengenai perbuatan dan perkataan kita yang mencerminkan suatu sikap positif.

3. Pengembangan Psikomotor
Psikomotor, yakni pembinaan tingkah laku dengan akhlak mulia sebagai penjabaran dari sifat shidiq Rasulullah dan pembinaan keterampilan kepemimpinan yang visioner dan bijak sana sebagai penjabaran sifat tabligh Rasulullah.

Belajar keterampilan motorik menuntut kemampuan untuk merangkaikan sejumlah gerak-gerik jasmani sampai menjadi suatu keseluruhan yang harus dilakukan dengan tulus karena Allah. Walaupun belajar keterampilan motorik mengutamakan gerakan-gerakan persendian dalam tubuh, namun diperlukan pengamatan melalui alat indera dan secara kognitif.Yang melibatkan pengetahuan dan pengalaman.Karena kompleksitas ini, oleh para psikolog belajar, disebut belajar “perseptual motor skill”

Sebagai indikator kecakapan dari aspek psikomotor, berikut pendapat Kenneth dalam Rosyada, meliputi:
  1. Observing (memperhatikan)
  2. Imitation (peniruan)
  3. Practicing (pembiasaan); dan
  4. Adapting (penyesuaian).
Belajar keterampilan selalu menuntut pengamatan terhadap lingkungkan untuk menentukan posisi fisik, seperti posisi badan dan memperkirakan jarak, seperti dalam belajar menulis kaligrafi dan bermain olahraga. Pengkonsentrasian perlu ditekankan agar mendapatkan hasil yang maksimal tanpa menyebabkan disfungsi keadaan fisik.

Mempelajari prosedur yang harus diikuti dan melatih diri, baik sub-keterampilan maupun keseluruhan rangkaian gerak-gerik, disertai koordinasi dilakukan ketika siswa mengolah informasi teoritis ke dalam aplikasi kegiatan motorik. Fase ini memegang peranan penting sekali. Penggalian program mental yang tersimpan dalam ingatan jangka panjang ( dari informasi yang telah dipelajari sebelumnya), diperkirakan akan langsung menjadi masukan bagi fase prestasi. Konfirmasi pengetahuan teoritis ke dalam tindakan aplikatif, dapat mengambil wujud umpan balik intrisinsik (dorongan dari dalam) atau ekstrinsik (pengaruh dari luar), dapat menyempurnakan keterampilan, sampai semuanya berjalan secara otomatis.

Otomatisasi keterampilan yang dikuasai menandakan keberhasilan dari kemampuan motoris yang direncanakan untuk dikuasai oleh seseorang.

Wallahua’lam….

Sumber: Perencanaan Pembelajaran karya Abdul Majid

Aug 26, 2013

Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa

Menjadi Guru yang Dirindukan Siswa
Tahun pelajaran 2013/2014 ini sudah berjalan kurang lebih dua bulan, untuk beberapa sekolah yang menjadi pilot project tahun pelajaran ini menjadi permulaan penggunaan kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013

Ganti menteri ganti juga kebijakan dan ganti kurikulum kalimat itu menjadi hal yang sudah menjadi kelumrahan karena seperti itu adanya. Namun pastinya kita sebagai pendidik (baik di lembaga formal maupun nonformal) tetaplah seorang pendidik atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan GURU (yang seharusnya digugu dan ditiru baik dari sikap, ucapan, dan penampilan kita). Karena kitalah yang menentukan seperti apa masa depan para murid dan masa depan bangsa ini. Guru tetap perlu memiliki pemikiran yang jernih, hati yang tulus mendidik, serta kritis bahwa pendidikan adalah urusan publik, sehingga pun perlu ambil bagian secara aktif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Nah, kali ini saya akan suguhkan kepada Anda semua bagaimana kita bisa tetap menjadi guru yang menyenangkan dan dicintai oleh murid – murid kita di kelas. Berikut 10 Cara Menjadi Guru yang Dirindu oleh para siswanya: 

1. Jangan Pernah Menoleransi Keributan Sejak Awal
Para guru seringkali membuat kesalahan dengan memulai tahun ajaran baru dengan membuat perencanaan kedisiplinan yang longgar. Para siswa akan dengan mudah memahami situasi dalam setiap kelas dan menyadari bahwa mereka dapat berbuat sesuka hati mereka dengan aturan minimal kedisiplinan yang telah Anda tetapkan. Sekali Anda memulai membiarkan adanya keributan atau kekacauan di dalam kelas, dan Anda memberikan toleransi atasnya, entah dengan cara mendiamkan mereka, Anda akan menemukan kesulitan di kemudian hari untuk mengontrolnya. Bagaimanapun juga, menjaga kualitas dan kedisiplinan di kelas selama satu tahun pelajaran tidak akan pernah mudah, namun akan lebih sulit membuat Anda menjadi lebih tegas dan disiplin bila Anda sudah mulai memberikan banyak toleransi pada awal tahun pelajaran.

2. Bersikap Adil
Para siswa biasanya memiliki kesan tersendiri tentang apa yang dianggap adil dan tidak adil. Sebagai guru, Anda harus bersikap adil dan fair pada para siswa bila Anda ingin dihormati. Jika Anda tidak memperlakukan setiap siswa secara sama, Anda akan dianggap telah berlaku tidak adil, menganakemaskan, pilih kasih, sedangkan yang lain merasa dianaktirikan. Jika kesan ini yang muncul, para siswa tidak akan konsisten dan ketat mengikuti aturan-aturan yang telah Anda tetapkan. Siapapun siswa itu, tidak peduli dia itu anak yang berprestasi di kelas atau bukan, bila ia telah melanggar kesepakatan bersama kelas, anak itu tetap harus memperoleh sanksi atas perilakunya yang indisipliner itu.

3. Fokus pada Materi
Ketika kelas Anda mengalami keributan atau kekacauan, Anda harus segera mengatasinya secara langsung. Usahakan agar dalam kelas Anda terdapat sedikit interupsi yang memotong jalannya pembelajaran. Misalnya, bila ada beberapa siswa yang saling omong sendiri, dan Anda sedang mengadakan diskusi dalam kelas, tanyakan pada salah satu dari mereka pertanyaan yang terkait dengan materi diskusi agar pembicaraan mereka kembali ke jalur diskusi kelas. Jika Anda menghentikan pembelajaran di kelas, dan mulai mengurusi para siswa yang saling berbicara itu secara khusus, maka Anda telah mencuri waktu penting dari para siswa yang sungguh-sungguh ingin belajar, sebab bagi mereka, waktu belajar di kelas yang terbatas itu merupakan waktu yang sangat berharga.

4. Hindari Keributan dengan Siswa
Ketika di kelas ada konfrontasi, antara Anda dan siswa, di situ pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Kadang kita ingin menunjukkan pada seluruh kelas bahwa seseorang di kelas ini telah melakukan tindakan yang salah, dan kita ingin agar yang lain belajar dari pengalaman seseorang ini. Tentu, sebagai guru, Anda berhak untuk menjaga disiplin dan keteraturan di dalam kelas. Bagaimanapun juga, akan lebih baik bila Anda membereskan persoalan indisipliner siswa tersebut secara privat, daripada kemudian membuat siswa tersebut “kehilangan muka” di hadapan teman-temannya. 

Anda perlu mengajak seluruh siswa tetap disiplin dan konsisten dengan aturan yang telah Anda tetapkan. Dengan menegur secara keras dan langsung, mungkin siswa lain akan menangkap maksud kedisiplinan Anda, namun Anda akan kehilangan kesempatan untuk merebut hati setiap anak di kelas. Anda bisa bersikap lebih bijak dengan meminta anak tersebut menemui Anda di luar jam pelajaran, dan tetap mengajak siswa tersebut konsentrasi pada pelajaran yang sedang dibahas.

5. Kelola Kelas dengan Sedikit Humor
Kadang kala humor diperlukan untuk mengajak para siswa kembali ke jalur pembelajaran di kelas. Namun untuk ini, Anda perlu belajar membedakan antara humor yang tepat sasaran dan mendidik, dan humor yang kasar. Kadangkala guru mencampuradukkan keduanya. Sementara humor yang sehat dan baik bisa membuat suasana kelas mencair dan mereka bisa dengan mudah diajak kembali ke pokok bahasan, sarkasme atau kata-kata kasar yang keluar akan merusak hubungan Anda dengan siswa. Gunakan kecerdasan emosional Anda untuk menilai apakah humor yang Anda luncurkan itu sebagai sesuatu yang memang lucu atau mengejek. Kadang Anda perlu memikirkan bahwa apa yang oleh orang lain mungkin dianggap lucu, sedangkan bagi yang lain mungkin dianggap sebagai penghinaan. Membuat humor yang tepat memang tidak mudah.Namun Anda akan terbiasa bila belajar dari pengalaman Anda.

6. Beri Tuntutan yang Tinggi pada Siswa
Anda mesti memberikan tuntutan yang tinggi pada siswa, bahwa mereka akan bersikap baik dan disiplin, bukan malah melanggar disiplin. Tunjukkan keyakinan Anda ini melalui cara bicara Anda pada siswa. Ketika Anda memulai pelajaran, jelaskan pada mereka apa yang Anda tuntutkan dari mereka dalam pelajaran kali ini. Misalnya, Anda bisa mengatakan, “selama pembahasan di dalam kelas, saya mengharapkan kalian untuk pertama-tama mengangkat tangan, saya persilakan bicara, dan baru kalian berbicara. Saya juga mengharapkan kalian menghargai pendapat teman-teman yang lain dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh teman yang lain.”

7. Siapkan Bonus Materi
Adanya waktu kosong merupakan sesuatu yang harus dihindari oleh para guru. Dengan membiarkan para siswa memiliki waktu luang untuk berbicara sendiri setiap hari, Anda telah memberikan kesan pada para siswa tentang penguasaan materi akademik dan subjek yang Anda ampu. Untuk menghindari ini, buatlah desain pembelajaran tambahan sebagai bonus (overplan). Tulislah kegiatan tambahan dalam lesson plan hanya untuk berjaga-jaga pada saat materi utama yang Anda harus jelaskan pada siswa sudah selesai dalam waktu singkat. Ketika Anda memiliki banyak materi yang perlu diajarkan, Anda tidak akan pernah kelebihan waktu dan Anda terhindar dari adanya waktu luang siswa. Anda juga bisa membuat semacam latihan kecil untuk waktu luang yang kemungkinan tersisa saat Anda mengajar.

8. Tetaplah Konsisten
Salah satu hal terburuk yang dapat Anda lakukan sebagai guru adalah tidak menerapkan aturan yang telah disepakati bersama secara konsisten. Misalnya, suatu hari Anda membiarkan perilaku indisipliner yang dilakukan siswa, di hari lain, Anda menegur dan memberi sanksi pada siswa saat melakukan pelanggaran kecil. Jika ini terjadi, Anda tidak akan dihormati lagi oleh para siswa. Siswa Anda memiliki hak untuk mengharapkan Anda bersikap konsisten setiap hari. Tidak boleh ada tempat untuk sikap angin-anginan, tergantung pada mood dalam menegakkan disiplin siswa. Sekali Anda kehilangan rasa hormat dari para siswa, mereka akan mengabaikan Anda dan tidak akan membuat Anda nyaman mengajar.

9. Buatlah Aturan yang dapat Dimengerti
Anda perlu menyeleksi aturan-aturan yang Anda terapkan di kelas. Sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengikuti secara konsisten banyak aturan. Anda juga harus membuat mereka mengerti dan memahami peraturan secara jelas. Siswa perlu memahami apa saja aturannya dan apa saja yang tidak dapat diterima dalam aturan tersebut. Selain itu, Anda juga harus membuat siswa memahami dan mengerti sanksi-sanksi yang akan diterapkan bila siswa melanggar aturan-aturan tersebut.

10. Selalu Mulai Hari dengan Semangat Baru
Anda harus memiliki semangat baru setiap kali mengajar. Memiliki semangat baru tidak berarti bahwa Anda mengabaikan pelanggaran-pelanggaran sebelumnya. Pelanggaran tetaplah pelanggaran yang harus diberi sanksi. Namun demikian, Anda tidak perlu setiap kali menegaskan apa yang Anda harapkan dalam diri siswa terutama terkait dengan kedisiplinan setiap kali Anda mengajar. Anda juga perlu menghindari pemikiran yang stereotip. Misalnya, Anton sudah seminggu ini setiap hari selalu datang terlambat. Ini tidak berarti bahwa hari ini dia akan datang terlambat. Sikap baru ini akan membuat Anton tidak merasa terancam dan Anda tidak akan merasa bahwa kelas Anda pasti akan terganggu lagi dengan keterlambatannya. Selalu memiliki sikap positif dan mengajak siswa juga berpikir positif akan membantu Anda membangun suasana belajar di kelas yang positif. (diambil dari berbagai sumber)

Nah setelah mengetahui bagaimana caranya mengajar agar menyenangkan pastinya kita langsung praktikkan dalam pekerjaan kita. Eits, tunggu dulu kalau sekedar teori mungkin akan cepat lupa buat Anda para pendidik yang mau mengetahui lebih jauh bagaimana pengaplikasiannya dalam proses KBM kita di kelas ikuti yuks program Training of Trainer – How To Be A Great Teacher bersama kami AHa Self Inspiration Center akan mengajak Anda menjadi guru yang menyenangkan, dicrindukan para murid, dan menjadi teladan bagi sesama rekan guru...

Informasi lebih lengkap silahkan kunjungi kami di ideanakhebat@gmail.com.

Aug 22, 2013

Melatih Rasa Kepedulian Anak

Melatih Rasa Kepedulian AnakSemaraknya aksi Peduli Mesir akhir-akhir ini yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat di Indonesia khususnya membuat saya semakin terharu. Ternyata negeri nun jauh secara jarak dan waktu bisa terasa pilu dan sakitnya sampai ke negeri kita. Bahkan mungkin orang-orang yang melakukan aksi KEPEDULIAN ini tidak mengenal siapa yang dibela di sana, namun dengan iman dan satu kata PEDULI maka semua ini terjadi. Namun sayang ada juga sebagian orang yang masih mengkritik, menghujat, bahkan menyesalkan bentuk aksi ini dengan alasan kenapa harus lelah lelah mengurusi negara orang, wong negara kita sendiri juga masih banyak masalah.. mmmffhhmm... Gak kayak gitu juga kali bro! Ada yang bilang “Kita cukup menjadi manusia saja untuk tergerak hati melakukan aksi melihat kejadian yang menimpa saudara-saudara kita.” Yaa... Aksi kan bisa berupa apa saja, aksi do’a, aksi gerak, sampai aksi membantu langsung tinggal pilih aja kok...

KEPEDULIAN??? Masih adakah di negeri kita tentang kepeduliaan ini. Pasti ada dan seharusnya ada, kita bisa terapkan itu sejak dini kepada adik-adik kita bahkan langsung kepada anak-anak kita sendiri.

Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang baik atau mengerti kesulitan orang lain. Untuk memiliki anak dengan sifat tersebut, ternyata membutuhkan waktu dan pendidikan dari orangtua. Tidak mudah memang mengajarkan anak mengerti pentingnya berbagi terhadap sesama, kecuali dengan pelatihan dan pendidikan yang dilakukan terus-menerus di rumah dan lingkungan terdekat.

Perkembangan egosentrisme anak umumnya dimulai anak pada usia 2-7 tahun, namun hal ini tergantung juga pada kematangan kognitif pada masing-masing anak dan tentu saja proses pembelajarannya yang berlangsung terus menerus. Sering kita jumpai anak-anak disekitar kita yang cuek dengan lingkungannya, sulit berempati dengan orang lain bahkan tidak peduli dengan lingkungan.

Sikap tidak peduli, umumnya dikarenakan balita masih berada pada masa egosentris yang memandang dirinya sebagai pusat dunia. Sehingga tak heran pada masa ini balita cenderung berpikir dari sudut pandang dan kepentingannya saja. Memang tak mudah mencetak anak yang punya rasa kepedulian yang tinggi. Suasana keluarga yang hangat dan saling peduli di antara anggota keluarga menjadi ajang belajar anak untuk meningkatkan sikap peduli kepada sekitarnya.

Langkah awal untuk mengajarkan anak agar bersikap lebih peduli adalah dengan menerima anak dengan kelebihan dan kekurangannya. Selain itu anak perlu diberikan contoh. Perlihatkan simpati anda pada perasaan anak atau orang lain, untuk menumbuhkan rasa empati anak pada lingkungan sekitarnya. Bicarakan dengan bahasa sederhana arti tanggung jawab dalam keluarga sehingga anak paham bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab. Berikan anak tanggung jawab ringan misalnya membereskan mainannya. Mengajak si kecil bersosialisasi juga dapat menumbuhkan sikap peduli. Dalam pergaulan, ia akan melihat pentingnya sikap berbagi dan saling memperhatikan orang lain.

Dapat Dilatih
Sikap sayang sesama dapat dilatih kepada anak dengan cara, misalnya, memberi tahu anak bagaimana harus bersikap saat berteman. Mereka juga harus diajarkan untuk mengutarakan perasaan dengan kata-kata. Bagi anak, hal itu sangat penting karena saat anak-anak segala sesuatu ingin diketahui.

Langkah lain yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan penguatan positif pada perilaku sayang. Sebab, kebanyakan orangtua hanya memerhatikan anak ketika melakukan hal baik dan tidak baik. Anak berperilaku tidak baik karena anak merindukan perhatian orangtua. Karena itu, nyatakan penghargaan dan sayang Anda saat anak berperilaku sayang, maka dia akan lebih sering menunjukkan perilaku sayang.

Ini bertujuan untuk melatih anak agar lebih positif dalam bertindak dan bersikap. Dengan kasih sayang yang diajarkan kepada mereka, anak-anak akan mengerti kesulitan orang lain.
Hal lain yang harus diajarkan orangtua kepada anak adalah mengajarkan mereka untuk menolak perilaku yang bertentangan dengan kasih sayang. Anak-anak perlu belajar apa yang dapat atau tidak diterima untuk mencapai keinginannya. Jika untuk mendapatkan keinginannya seorang anak menyakiti atau merugikan orang lain, hal ini bertentangan dengan kasih sayang.

"Orangtua perlu menjelaskan menyakiti orang lain adalah cara yang salah".
Dengan Memberi
Langkah-langkah awal yang harus ditanamkan orangtua untuk menanamkan dan membangun munculnya rasa sayang terhadap sesama adalah dimulai dengan memberikan kasih sayang yang cukup pada anak.

Membuat anak merasa disayangi merupakan salah satu cara terbaik bagi orangtua dalam membangun munculnya rasa menyayangi orang lain. Anak yang disayang orangtuanya cenderung akan menyayangi anak lain. Sebaliknya, anak yang ditolak akan bersikap agresif, kurang mempunyai rasa sayang.

Selanjutnya, anak akan merasa dicintai jika melihat orangtua, guru, atau pendidik lainnya merasa senang atas kehadirannya. Misalnya, ketika dia masuk dalam ruangan disambut dengan senyum. Bahkan, anak akan merasa dicintai kalau kita peka terhadap kebutuhannya. Seorang anak akan tahu bahwa dia dicintai jika kesuksesannya membuat kita bersuka dan kegagalannya membuat kita berduka.

Rasa sayang yang berlimpah dari orangtua secara otomatis membuat anak memahami soal rasa itu. Si kecil juga merasakan bagaimana nyamannya disayangi dan menyayangi. Jauhi sikap kekerasan dalam keluarga, karena ini juga berdampak terhadap sikap anak nantinya. Kekerasan yang sering dilihatnya akan memengaruhinya dan mencontoh perbuatan tersebut. Alhasil, anak pun susah menyayangi sesama.

Nah, ayooo kita mulai dari saat ini untuk menerapkan sikap kepeduliaan kepada anak-anak kita tentunya dari hal-hal yang kecil sekarang juga tanpa harus menunggu sampai nanti...

Aug 21, 2013

Mengasah Kecerdasan dan Kreativitas Anak

Mengasah Kecerdasan dan Kreativitas Anak
Berdasarkan pengalaman mengajar kurang lebih 10 tahun di dunia pendidikan, saya menemukan karakter dan sifat anak yang berbeda satu sama lain.Seringkali kita menemukan seorang anak yang terlihat malas di kelas atau memiliki nilai sekolah yang tidak terlalu baik. Namun ada kalanya mereka bisa mendapatkan nilai yang melebihi teman-teman mereka satu kelas, atau memiliki sesuatu kemampuan yang tidak kita duga dan tidak bisa dilakukan oleh anak-anak lain.

Jadi bila Anda menemukan seorang anak atau bahkan mungkin buah hati Anda sendiri terlihat “kurang pandai” jangan berkecil hati. Mungkin saja dia adalah anak yang kreatif dan cerdas, namun belum terlatih / terasah dengan baik. Saya percaya, semua anak memiliki bakat untuk menjadi anak yang cerdas dan kreatif. Lalu bagaimana untuk bisa melatih anak agar bisa menjadi anak yang cerdas dan kreatif? Mari ikuti tips-tips di bawah ini:

Ada beberapa cara mengasah kreativitas anak antara lain;

1. Berkreasi setiap hari
Untuk menunjukkan kepedulian Anda pada sang buah hati atau anak didik kita dalam berkreasi, marilah Anda ajarkan mereka untuk membuat sesuatu yang kreatif. Misalnya dengan menggambar, melipat kertas, bermain game (porsi yang semestinya), bermain permainan-permaian edukatif, bernyanyi, bercerita, dan masih banyak lagi. Usahakanlah untuk bisa menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang pernah dilakukan oleh mereka, sehingga anak tidak merasa bosan dan terpacu untuk lebih berpikir kreatif.

2. Menggunakan ke dua sisi tubuh
Hal ini memang tidak lazim dilakukan. Namun bila putra/putri atau anak didik kita, kita latih sejak dini untuk melakukan hal ini, maka hal ini akan sangat bermanfaat di kemuadian hari. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melatih anak melakukan sesuatu menggunakan kedua sisi tubuh. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menggambar atau mewarnai menggunakan tangan yang biasa digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri.

3. Memiliki tokoh yang bisa diteladani dan di idolakan
Dengan memperkenalkan banyak tokoh dunia yang telah sukses, anak-anak menjadi tahu berbagai macam kepribadian dan prestasi dari orang lain. Hal ini sangat penting. Kenapa? Karena anak-anak suka sekali meniru orang lain. Tokoh-tokoh ini bisa seorang pahlawan, penemu, rohaniwan, dan tokoh-tokoh lain yang bisa menjadi teladan buat sang buah hati. Jangan sampai meraka hanya mengidolakan tokoh-tokoh kartun atau film. Hal ini memang tidak dilarang, namun akan lebih baik bila tokoh-tokoh tersebut adalah seseorang yang nyata sehingga bisa menumbuhkan motivasi anak untuk meniru hal-hal yang baik di dalam diri tokoh tersebut, lalu diteladani dalam kehidupan yang nyata.

4. Melatih ketelitian Anak
Saat anak melihat sebuah gambar jerapah, akan lebih mudah bagi anak untuk mengatakan bahwa itu adalah seekor jerapah, daripada melihat kaki jerapah yang panjang dan meminta anak menyebutkan alasan kenapa kaki jerapah begitu panjang. Mengapa hal ini sangat penting? Karena dengan membiasakan anak untuk belajar sesuatu secara lebih mendetail atau kompleks, maka anak-anak akan menjadi lebih termotivasi untuk “mengenal secara lebih” tentang sesuatu yang sudah mereka ketahui. Sehingga kelak setelah mereka dewasa, mereka tidak hanya tertarik untuk menggunakan sesuatu yang telah ada, namun menemukan hal-hal baru lain tentang sesuatu yang pernah ia pakai dan menciptakan sesuatu yang baru lewat sesuatu yang telah ada (semoga bahasanya bisa dipahami).

5. Memberikan liburan yang kreatif
Liburan yang kreatif tidak harus mahal, namun yang terpenting adalah sesuai dengan minat anak. Hal ini bahkan bisa dilakukan di rumah. Misalnya dengan berkebun, mendekorasi rumah, membuat kreasi pernik-pernik, dan masih banyak lagi. Bila perlu Anda juga mengajak anak berlibur di luar rumah, misalnya ke tempat wisata yang memiliki permainan outbound. Anak-anak aktif biasanya akan menyukai hal ini, karena segala “emosi dan jiwa” mereka bisa tersalurkan dengan baik. Selain itu, dari pembinaan kakak outbound, anak akan mendapatkan banyak pelajaran tentang arti kerjasama, toleransi, sosialisasi, dan lain-lain. Anak aktif juga harus memiliki moral dan etika yang baik kan? Selain itu diperlukan juga….

6. Jangan terlalu serius dalam mendidik
Suasana keluarga yang terlalu serius dan kaku, biasanya juga kurang mendukung kreatifitas anak untuk bisa berkembang. Gurauan dan humor-humor kecil sangatlah penting di dalam sebuah keluarga. Anda bisa mengajak buah hati Anda bercAnda pada saat-saat santai, membacakan cerita humor, menceritakan pengalaman sehari-hari yang lucu, dan masih banyak lagi cara lain yang bisa membuat anak merasa rileks saat bertemu dengan orang tuanya. Hal ini juga akan membuat anak merasakan suka cita saat berada di dalam rumah, sehingga anak-anak Anda pun bisa lebih ekspresif terutama yang berhubungan dengan kreatifitas yang dia minati dan bakat yang dimiliki.

7. Melatih kemampuan otak kanan
Dengan mengajak anak-anak bernyanyi, berpuisi, menggambar, dan berbagai macam kegiatan kreatif lainnya, kemapuan otak kanan akan bekerja dengan lebih optimal. Di sekolah, biasanya anak-anak akan lebih cenderung menggunakan otak kiri, dan bila kemampuan otak kanan dan kiri bisa bekerja dengan baik dan seimbang, maka anak-anak tidak hanya akan berpeluang mendapatkan prestasi di bidang akademisa saja, melainkan bisa meraih prestasi-prestasi di bidang yang lain, misalnya kesenian.

Ayo jadikan buah hati dan anak didik kita yang cerdas dan kreatif!

Ingin lebih mengenal POTENSI HEBAT apa saja yang ada di putra/putri Anda? Baca artikel berikut http://www.ideanakhebat.com/2013/04/potret-potensi-hebat.html

Konsultasikan juga permasalahan seputar buah hati Anda di Rubik Konsultasi Parenting. Klik disini.

Aug 17, 2013

Orang Tua Hebat untuk Anak Hebat

Orang Tua Hebat untuk Anak Hebat
Sebelum meminta anak menjadi baik, sebaiknya kita jadi orang tua yang baik terlebih dahulu...

Kata-kata yang cukup menggelitik tapi nampaknya sama dan mirip dengan kenyataannya sekarang ini. Banyak kita mendengar dan melihat ada orang tua yang sangat intens sekali mencari rumah yang lingkungannya baik dan kondusif, mencari sekolah yang bagus pendidikan akhlaknya bahkan kalau bisa yang full day agar lebih banyak ilmu yang diserap oleh anak-anak tentang berperilaku yang baik. Memang tidak ada salahnya tapi percuma saja jika tida diimbangi dengan akhlak dan ilmu yang baik juga dari kedua orang tuanya. Karena terkadang anak sudah terkondisikan akhlaknya dan terbiasa melakukan hal-hal yang baik tapi malah orang tua yang kurang mendukung dengan sikap mereka masing-masing. 

Oleh karena itu di artikel kali ini, saya akan mengajak kepada semua orang tua untuk menjadi orang tua yang berakhlak baik juga.

Ketika setiap orang tua menganggap anak-anak sebagai anugerah, bukan beban maka mereka secara otomatis akan memperlakukan anak-anak mereka dengan hati serta menghargainya sebagai individu terpisah yang memiliki kemauan dan perasaan sendiri.

Ada 5 langkah menjadikan diri kita menjadi ORANG TUA HEBAT sehingga akan mendidik anak-anak dengan HEBAT pula karena mereka adalah titipan Allah SWT yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara dengan baik karena mereka juga pribadi yang BERPOTENSI HEBAT. Apa saja langkahnya berikut penjelasannya :

1. MENGGALANG KESATUAN ORANG TUA. Artinya orang tua harus kompak dalam memperlakukan anak-anak, jangan sampai ibunya melarang sesuatu malah ayahnya membolehkan sesuatu itu kan jadinya tidak nyambung.

2. BELAJAR BERSAMA ANAK. Mengajak anak belajar adalah satu satu hal yang perlu perjuangan, kalau si anak tidak terbiasa dengan ini pasti sangat melelahkan mengajaknya. Nah oleh karena itu belajarlah bersama dengan anak kita, ketika ada permasalahan di sekolah mengenai pelajaran usahakan kita sebagai orang tualah yang bisa jadi solusinya makanya orang tua pun sama harus banyak belajar juga agar bisa mengimbangi ilmu anak-anak kita.

3. BUATLAH JURNAL. Jurnal perubahan sikap anak-anak kita jika mereka mereka melakukan sikap yang baik. Sekecil apapun perubahan yang dilakukan anak kita, INGAT harus dihargai dan diberikan penghargaan.

4. LAKUKAN CURAH GAGASAN. Maksudnya berdiskusilah dengan anak kita untuk menentukan sesuatu, dari hal yang kecil sampai hal yang besar dan dianggap sangat penting. Pertimbangkan dan perhatikan dengan baik pendapat beliau agar mereka pun bisa memperhatikan pendapat kita walaupun pada intinya kitalah yang mengetahui yang terbaik untuk mereka.

5. RAYAKAN KEBERHASILAN SEKECIL APAPUN. Jika anak kita melakuakn perbuatan yang baik walaupun sebentar maka kita harus peka dan memberinya reward walaupun tidak harus hadiah yang mahal, cukup ucapan terima kasih, pelukan hangat, kata-kata motivasi pun bisa membuat POTENSI HEBAT mereka muncul dengan sendirinya. 

Naah gimana sahabat, yakin deh jika kita mulai dengan langkah yang kecil kita akan bisa melangkah ke hal yang lebih besar. Selamat menikmati menjadi orang tua yang HEBAT yang mengetahui POTENSI HEBAT dari setiap buah hati kita...


Ingin berkonsultasi seputar permasalah anak? Kami dengan senang hati berbagi tips dan solusi dengan Anda hanya dengan mengirimkan email ke ideanakhebat@gmail.com. Selamat menjadi ORANG TUA HEBAT!

Aug 11, 2013

Mengisi Liburan dengan Menyenangkan sekaligus Melejitkan Potensi Diri

Mengisi Liburan dengan Menyenangkan sekaligus Melejitkan Potensi DiriMasa liburan sekolah adalah saat-saat yang paling ditunggu dan didambakan oleh setiap anak setelah setiap hari menyibukkan diri dengan kegiata-kegiatan belajar di sekolah. Tapi apakah masa liburan ini benar-benar digunakan untuk me-refresh organ-organ penting dalam tubuh, atau hanya sebagai ajang balas dendam untuk kebebasan yang terbelenggu oleh rutinitas?

AHa Self Inspiration Center, mencoba menjawab segala kekhawatiran para Ayah-Bunda dalam mengatasi dilema pendidikan dan perkembangan anak dengan menghadirkan program “Fantastic Holiday (FanDay)”, yakni program yang memanfaatkan masa liburan sebagai sarana melejitkan potensi hebat anak dan membangun kesuksesan sejak dini.


Mengisi Liburan dengan Menyenangkan sekaligus Melejitkan Potensi Diri
Program ini berisi motivasi pengembangan potensi yang dikemas dalam bentuk hiburan bermanfaat, aktifitas outbound, budaya harian, pembekalan materi-materi motivasi dan inspiratif yang disampaikan oleh para trainer yang ahli dibidangnya dan didampingi oleh fasilitator AHa’ers yang berkualitas selama tiga hari dua malam dengan camp di alam serta Potret Potensi Hebat dengan menggunakan mesin kecerdasan STIFIn ditunjang dengan Parenting Workshop untuk Ayah-Bunda.

Outbound Bandung for Smart Kids

Outbound Bandung for Smart Kids

Outbound Bandung for Smart Kids

Outbound Bandung for Smart Kids


Sistem kerjasama yang ditawarkan bersifat terbuka dalam kesepakatan, bisa dimusyawarahkan kembali baik dalam segi program acara maupun pembiayaan administrasi program, hal ini sehubungan dengan beragamnya kondisi klien. Dengan harapan, kerjasama yang terjalin merupakan kesepakatan terbaik dengan tidak merugikan pihak manapun. 

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan menghubungi kantor sekretariat AHa Self Inspiration Center

Jl. Sarijadi No. 75 – Bandung 
Telp. 022 72288794 atau email. ideanakhebat@gmail.com

Jul 23, 2013

Fokus Pada Satu Tujuan

Membuat Api dengan Lup (Kaca Pembesar)
Anak Hebat,

Masih ingat nggak percobaan membakar sebuah kertas dengan kaca pembesar waktu masih sekolah dasar dulu? Ternyata kertas itu terbakar setelah kaca pembesar berhasil memfokuskan sinar matahari pada satu titik.

Disadari atau tidak, kita pun seperti itu! Asalkan mau memfokuskan segenap diri dan kemampuan tepat pada satu tujuan, insya Allah tujuan tersebut dapat dicapai.

Manusia sebenarnya diciptakan Allah SWT dengan potensi yang tidak terbatas. Sekali lagi saya katakan, POTENSINYA TIDAK TERBATAS! Tapi kenyataannya, hanya sedikit saja orang yang mau berusaha memaksimalkan potensi tersebut untuk meraih tujuan.

Anak Hebat, kamu mungkin bisa menjadi orang yang mengerjakan banyak hal, tetapi tidak dapat menguasai sepenuhnya. Kita memang dapat melakukan apa saja, tetapi kita tidak selalu dapat mengerjakan semua. Menguasai satu bidang secara sungguh-sungguh masih lebih baik daripada mampu mengerjakan banyak hal tapi kualitasnya tidak bagus.

Tony Robins mengatakan, "Salah satu alasan begitu sedikit orang yang meraih apa yang diinginkannya adalah karena kita tidak pernah fokus; kita tidak pernahkonsentrasi pada kekuatan kita. Kebanyakan orang hanya mencoba-coba berbagai macam jalan dalam hidup mereka. Mereka tidak pernah memutuskan untuk menguasai suatu bidang khusus".

Fokuslah pada satu keahlian. Kemudian tumbuhlah untuk mencapai potensi maksimal dengan cara:
  • Fokus pada satu sasaran utama
  • Fokus pada peningkatan yang berkesinambungan
  • Fokus pada masa depan, bukan masa lalu

Fokus pada kekuatanmu dan kembangkan kekuatan itu. Di sanalah kamu harus mencurahkan waktu, energi dan sumber daya dirimu. Teruslah bertumbuh dan tingkatkan kemampuan dirimu untuk meraih sebanyak mungkin impian!
Mau tahu potensi hebat yang terpendam dalam dirimu? 
Cari tahu disini atau hubungi 02272288794 / 083822489512

Jul 17, 2013

Cara Mudah dan Cerdas Hafal Al Quran

cara cerdas hafal al quran

Assalamu’alaikum sahabat bintang... Apa kabar kalian hari ini? Alhamdulillah kita bisa memasuki hari ke-8 di bulan Ramadhan ini. Tidak terasa dua hari lagi kita melewati hari-hari di mana kasih sayang Allah SWT tercurah limpah kepada siapa saja yang meminta kepada Allah dan dikehendaki Allah di sepuluh hari pertama bulan Ramadhan ini. Tentunya masih banyaaaaaak sekali hal mesti kita lakukan. Sayang banget kalau kita lewatkan hari-hari penuh kenikmatan pahala ini kita sia-siakan begitu saja.

Nah, di bulan Ramadhan ini waktunya kita untuk meningkatkan ibadah dengan amalan terbaik kita di antaranya ‘bercinta’ dengan Al Quran. Tahukah sobat kalau kita membaca Al Quran satu ayat di bulan ini maka pahalanya akan melimpah sampai 700 kali lipat perhuruf yang kita baca. Subhanallah... Apalagi kalau kita mau menghafalkannya walaupun hanya satu ayat. 

Oleh karena itu, di artikel anak hebat kali ini kita akan bahas CARA CERDAS HAFAL AL QURAN sesuai dengan buku yang ditulis oleh Dr. Raghib As-Sirjani dan Dr. Abdurrahman Abdul Khaliq. Salah satu dari sekian banyak faktornya adalah dengan mengambil ilmu dari Al Qur’an dan mengamalkannya. 

Sahabat bintang pastinya sudah tahu dong kalau Al Quran itu memiliki cahaya, yang mana cahaya itu tidak akan pernah masuk ke dalam hati manusia kecuali yang mengambil ilmu darinya dan mengamalkannya. 

Rasulullah saw pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Muslim, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad yang artinya “Al Qur’an itu bisa menjadi pembelamu dan penentangmu.”

Saking luar biasanya cahaya yang ada di dalam Al Quran siapapun yang membaca, mentadzaburi, menghafal, bahkan sampai mengamalkan Al Quran maka hidup orang-orang ini akan semakin terlindungi oleh cahaya iman kepada Allah. 

Allah SWT berfirman dalam surat Al Isra : 82 yang artinya :

“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugiaan.”

Semoga kita termasuk orang – orang yang selalu mencintai Al Qur’an... Aammiin

Oke dech sahabat bintang itu artikel kita kali ini, insya Allah kita ketemu lagi di artikel selanjutnya. Buat sahabat bintang yang ingin merasakan membaca Al Quran dan menghafalkannya bareng anak yatim ikutan di acara kami yuks. Insya Allah setiap Sabtu dan Ahad kami berkeliling ke panti-panti asuhan untuk mengadakan pelatihan anak hebat, bagi-bagi gift Ramadhan/lebaran, shalat bareng, tarawih bareng, serta sahur dan buka puasa bareng. Buat sahabat bintang yang mau gabung silahkan bisa mengubungi :

Agung Priyantama (08156235979),

Hani Annisa Fitrianty (085861310544), 

Umi Nadhiroh (082120865495) dan 

Peraih Mimpi Mbae (083822489512).

Kami tunggu ya partisipasinya... terima kasih



Salam Sejuta Motivasi!

Hani Annisa Fitrianty
Divisi Produk dan Sumber Daya Manusia AHa