Social Icons

Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Sep 25, 2013

Nikmatnya Menjadi Seorang Ibu

Nikmatnya Menjadi Seorang Ibu
Saat lihat-lihat status teman di fb aku menemukan status salah satu temanku yang sangat menyentuh dan membuatku sedikit terhenyak dengan pernyataannya. Beliau menulis : “Banyak orang yang memandang sebelah mata pekerjaan ibu rumah tangga. Padahal berawal dari sini lah generasi hebat dan berkualitas itu dibentuk.”

Mmmm... sedikit berpikir saya sebagai ibu rumah tangga yang juga harus bekerja di luar rumah yang insya Allah diniatkan juga untuk mencerdaskan anak bangsa tapi kok rasanya pekerjaan di rumah tangga tidak ada habis-habisnya. Setelah masak, beres-beres rumah, lanjut mencuci baju, kemudian menyetrika, dan lain sebagainya yang nampaknya baru berhenti kalau semua anggota keluarga kita sudah tidur. Hehe... Kadang terasa lelah karena harus membagi waktu dan pikiran ini dengan dua pekerjaan yang berbeda tempat. 

Tapi setelah kubaca buku Ibu RT Profesional karangan Lizsa Anggraeni ini mata hatiku semakin terbuka bahwa ternyata ada hal yang indah dibalik rasa lelah kita – yaitu syurga...

Artikel kita kali ini, kami akan tengahkan kisah kasih perjalanan seorang Ibu Rumah Tangga yang sangat menakjubkan. Chek it out ya...

Menjadi ibu rumah tangga identik dengan pengangguran. Profesi ini sama sekali tidak mentereng, bahkan terkesan kampungan dan tidak menuntut keahlian apapun. Sungguh menyedihkan!

Dunia memaksa kita untuk setuju bahwa wanita yang baik adalah wanita yang bekerja mencari uang! Sehingga peran ibu rumah tangga dinihilkan. Mereka berbondong-bondong melamar pekerjaan di luar rumah. Imbasnya, pendidikan anak terbengkalai, curahan kasih sayang hilang tak tentu rimbanya. Ibu mereka memenuhi pabrik-pabrik dan perusahaan mengejar karier sebagai sebuah prestasi kebanggaan.

Apa yang menjadi peran wanita yang sesungguhnya...

1. Menurut Daz Eva Prinzip : Jerman
Intinya prinsip yang diusung oleh seorang pembawa acara televisi terkenal yang bernama Eva Herman ini menganggap bahwa sebagai seorang wanita, maka mereka harus kembali ke rumah dan menikmati peran sebagai istri serta ibu.

2. Prinsip Ryousai Kenbo : Jepang
Untuk mewujudkan keluarga yang harminis maka wanita Jepang memegang teguh prinsip ini yang artinya istri yang baik ibu yang bijaksana. Dengan memegang prinsip ini wanita jepang yang sudah berkomitmen untuk menikah maka akan akan berkomitmen juga menjalankan ini

3. Prinsip islam
Islam sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum wanita, bukan hanya sekedar seseorang pengkap kaum lelaki namun wanita adalah zaujah muthi’ah (istri yang taat dan penyayang), ummu madrasah (ibu pendidik), dan mar’ah sholihah (wanita sholihah). Jelaslah dengan prinsip ini maka begitu tinggi Allah menempatkan seorang wanita sebagai seseorang yang sangat spesial dan istimewa.

Dengan demikian jelaslah bahwa menjadi seorang wanita adalah takdir kita namun menjadi seorang istri dan ibu adalah pilihan yang harus menjadi pilihan utama kita. Karena dari kita lah akan lahir generasi penerus bangsa yang hebat, kuat, sehat, dan bersemangat yang akan menjadikan kehidupan kita kelak menjadi lebih bahagia.

Ingin lebih tau mengenai bagaimana menjadi ibu hebat dan penuh manfaat, kunjungi kami di www.ideanakhebat.com

Sep 6, 2013

Mengatasi Anak Marah

Apa yang biasa Anda lakukan jika anak marah??
  1. Ikut marah juga
  2. Beristighfar sebanyak-banyaknya dan sekeras-kerasnya ^_^
  3. Atau mungkin malah nangis karena takut

Mmmm... pusing juga ya mengatasi anak yang marah atau marah-marah baik itu ada alasan ataupun tidak pasti yang ada buat kita semakin bingung.

Nah, kali ini kami akan berikan solusi buat bunda yang kebingungan saat anak kita marah dan tidak bisa dihentikan. Simak yuk...

Mengatasi Anak Marah

Marah biasanya tampil berupa reaksi terhadap frustasi, sakit hati dan merasa terancam. Pada umunya frustasi atau keinginan yang tidak terpenuhi merupakan hal yang paling sering menimbulkan kemarahan pada anak. Terutama bagi anak-anak, penyebab munculnya marah adalah anak terhambat melakukan sesuatu, hambatan bisa berasal dari dirinya sendiri (ketidakmampuan) atau bisa juga dari orang lain (larangan), perasaan tidak nyaman, mainan miliknya direbut oleh orang lain.

Reaksi marah pada anak sangat beragam, namun yang sangat sering ditampilkan anak adalah kemarahan yang bersifat impulsive (agrsesi), tindakan yang langsung ditujukan pada orang lain atau objek lain. Bisa berupa reaksi fisik atau verbal, bisa tempertantrum, mengigit, menendang dan lain-lain. Bisa juga marah yang tertahan dan dikendalikan maka reaksi yang dimunculkan berupa menarik diri atau bersikap masa bodoh. 

Menekan dan menyimpan marah dapat menyebabkan masalah yang bisa jadi lebih berbahaya. Namun seiring usia perkembangana anak, maka anak akan dapat mengendalikan dirinya, dengan cara mengontrol dan melampiaskan pada cara yang tepat dan produktif. Hal yang wajar dan biasa ketika anak pra-sekolah mengekspresikan dirinya dengan cara marah sebagai tanda mencurahkan gejolak jiwanya sebagai protes terhadap perilaku atau sesuatu yang tidak dapat diterimanya.

Berikut tips mengatasi marah pada anak:
  • Bantulah anak mengendalikan emosinya saat Anda mengajarkan cara-cara yang bisa diterima untuk mengemukan amarah.
  • Pada balita dan anak pra-sekolah, Anda bisa mengatakan pada anak Anda bahwa perasaannya sah-sah saja
  • Anak pra-sekolah yang berpikir tentang hal-hal sihir akan khawatir bahwa pikiran jelek tentang seseorang akan menjadi kenyataan setelah marah berlalu, berikan pelukan hangat sehingga anak dapat mengatasi kemarahannya.
  • Dengan anak yang lebih tua, katakan “Mamah tidak mau bicara denganmu ketika kamu berteriak atau bersumpah serapah” cara ini akan memberi contoh yang baik dalam mengekspresikan emosi.
  • Hitunglah sampai sepuluh dan katakanlah, mengapa kamu sangat marah sambil ketuk-ketuk dahi-tulang tengkorak pipi-hidung-dagu-bahu-dada dengan menggunakan jari telunjuk kanan masing-masing 10 hitungan.
  • Menetralkan marah dan menyegerakan berdiskusi bersama anak.
  • Buatlah pertemuan keluarga dan revisilah peraturan rumah yang dapat membuat anak marah dan frustasi karena peraturan tersebut.
  • Sebaiknya juga berdiam diri atau berpindah tempat ketika sedang marah.
  • Latihlah dengan sabar apa yang anda ajarkan pada anak.
  • Jika anak marah, berikan pada diri anda waktu istirahat.
  • Tetap tenang dan tidak menuruti keinginan anak, jika Anda ingin memberikan nasihat lakukan ketika anak sudah tenang.
  • Cobalah untuk menjadi sportif ketika mengatur perilaku anak.

Nah, mudah-mudahan bisa membantu ya bunda... Buat bunda yang masih bingung dengan permasalahan lainnya seputar pendidikan anak simak terus artikel-artikel menarik di www.ideanakhebat.com ya ^_^

Sep 5, 2013

Menerapkan Sikap Jujur Pada Anak

Orangtua dan guru paling berperan dalam menanamkan perilaku jujur pada anak. Jika anak terbiasa melihat perilaku jujur orangtuanya, kemudian ikut mempraktikkannya sejak kecil, maka akan terbawa hingga dewasa.

Kasus yang akhir-akhir mulai tekuak dan menjamur di negara kita adalah kasus korupsi yang melibatkan para pejabat publik yang seharusnya pengayom masyarakat malah memberikan contoh yang kurang baik terhadap tumbuh kembang kemajuan bangsa ini. Apalagi jika pemberitaan ini menghiasi layar TV yang sedikit banyak mempengaruhi anak-anak kita di rumah. Mengerikan ya jika anak-anak kita melihat hal tersebut dan melakukan hal yang sama... Wah jangan sampai dech, Nah agar keluarga kita terhindar dari hal yang demikian, terutama anak-anak kita maka kita harus menanamkan sikap kejujuran dalam keluarga kita sejak dini.

pinokio
Kejujuran adalah hal yang sangat langka di zaman sekarang, oleh karena itu harus mulai memasyarakatkan kejujuran tersebut mulai dari lingkungan keluarga kita, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulailah saat ini juga tanpa menunda-nunda. Contoh menerapkan sikap kejujuran kepada anak kita, biasanya saat kita selaku orangtua sedang dalam keadaan lelah ada tamu datang berkunjung tanpa kita sadari ada orangtua yang menyuruh anaknya untuk mengatakan “Bilang ya Mamah sedang tidur atau bahkan tidak ada di rumah.” Padahal jelas-jelas kita ada dan malas untuk menemui tamu tersebut. Sederhana memang tapi dampaknya sangat negatif untuk perkembangan mereka, mereka akan beranggapan jika kita sedang tidak mood maka kita boleh berbohong. 

Lalu bagaimana ya kita bisa menerapkan kejujuran kepada mereka??? Nah, salah satunya bisa melalui dongeng/cerita. Membacakan cerita/mendongengi anak bisa dilakukan untuk menanamkan sikap jujur pada anak sejak dini. Cara ini dianggap sangat efektif karena umumnya anak-anak menyukai cerita/dongeng. Apalagi jika dilakukan dengan nada, intonasi, mimik muka, dan gerakan-gerakan yang bisa membuatnya fokus kepada kita. Tentu saja pilihlah cerita yang ringan dan sesuai dengan usia perkembangannya. Jangan sampai justru membuat mereka ketakutan. Cerita/dongeng binatang (Fabel) bisa mengantarkan mereka melakukan hal-hal yang terpuji dan disukai oleh orang banyak-termasuk berlaku jujur. 

Ingat ya bunda, saat anak melakukan kejujuran sekecil apapun maka harus dihargai dan diberikan reward bisa berupa pujian atau bahkan hadiah. Asal tidak berlebihan itu akan membuat anak senang melakukan kebaikan-kebaikan yang lainnya. Tapi jika anak melakukan kebohongan maka janganlah terlalu keras mengahadapinya, tetap hadapi dengan kepala dingin dan ajaklah ngobrol dari hati ke hati agar anak juga merasa aman dan menyadari bahwa yang dilakukannya tidak benar.

Nah, gimana Bunda? Semoga bermanfaat ya artikel kita kali ini... Buat bunda yang mau lebih jelas lagi bagaimana mendidik anak-anak HEBAT kita silahkan bergabung dan simak berbagai macam tips seputar pendidikan anak di www.ideanakhebat.com bersama Tim HEBAT AHa ^_^

Sep 4, 2013

Tips Untuk Mengatasi Anak Malas Belajar

Tips Untuk Mengatasi Anak Malas Belajar
Baca kata kreatif pasti ada kaitannya dengan hal-hal yang baru yang tidak terpikirkan bahkan dibayangkan oleh orang kebanyakan. Kata kreatif tidak hanya menjadi padanan bagi kata barang atau ide saja tapi sebagai orangtua ternyata kita juga harus kreatif dalam mendidik anak-anak kita. Anak tumbuh dan berkembang dengan keunikannya masing-masing, ada beberapa orangtua yang mengatakan anaknya tumbuh sangat aktif dan saking aktifnya ibunya terutama lelah melayani apa yang diinginkannya, ada lagi yang lain “Anak saya tidak mau makan sayur” atau ada yang anaknya tidak mau mandi sore, sampai ke masalah tidak mau belajar atau malas untuk membaca buku pelajaran, semua sering jadi keluhan orang tua. Anak lebih suka melihat tayangan televisi, seperti sinetron, film atau bermain dengan teman-teman sebayanya.

Nah, di sini lah kita sebagai orangtua harus kreatif mengajak mereka sesuai dengan apa yang kita inginkan. Yuks kita kupas satu dari sekian banyak permasalahan yang tadi diungkap di atas. Yaitu mengatasi anak yang malas belajar. Jika anak tidak mau belajar, mereka menganggap bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang kurang menyenangkan dibandingkan dengan bermain atau nonton. Untuk mengatasi anak yang malas belajar adalah dengan membuat anak menganggap belajar adalah kegiatan yang menarik, menyenangkan atau membuat mereka sadar bahwa belajar adalah suatu kebutuhan. 

Selengkapnya, berikut ini adalah tips untuk mengatasi anak malas belajar :
  1. Tanamkan kesadaran kepada anak bahwa belajar adalah suatu kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang pelajar yang hasilnya akan diraih dimasa mendatang.
  2. Berikan contoh kepada sang anak. Orang tua dapat turut membaca buku-buku yang bermanfaat saat anak sedang belajar.
  3. Orang tua sebaiknya juga menanamkan budaya membaca di lingkungan keluarga.
  4. Ciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Buat ruang belajar yang menarik, rapi dan tidak membuat anak malas di dalam ruang belajar.
  5. Berikan motivasi kepada anak untuk belajar dengan cara yang baik, adakan pendekatan sambil menyelami hati anak dengan menjadikan anak sebagai sahabat. Jangan menyuruh anak belajar dengan memaksakan anak, apalagi dengan cara yang kasar.
  6. Berikan insentif kepada anak, baik berupa hadiah kesukaan mereka atau sekedar pujian jika nilai anak bagus. Hal ini akan membantu memotivasi anak.
  7. Sebaiknya orang tua lebih terbuka dengan anak dengan menanyakan permasalahan yang dia hadapi, kenapa malas belajar, apa yang dapat membuat ia semangat untuk belajar dan sebagainya. Bantu anak untuk mengatasi permasalahan tersebut.
  8. Pilih waktu yang paling tepat untuk anak belajar. Hendaknya orang tua juga turut membantu anak dengan tidak menonton televisi, atau tidak mendengarkan musik keras-keras.
  9. Jadikan waktu belajar ini menjadi kebiasaan rutin sehari-hari, dan sebaiknya orang tua juga menemani dan membantu jika anak mengalami kesulitan saat belajar.
  10. Selain waktu belajar yang rutin, sediakan juga waktu yang cukup untuk bermain, menonton dan berinteraksi dengan teman-temannya.

Ingat Bunda dan Ayah... Yang terpenting dari semua itu pastinya harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, pasti semua akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mau tau lagi tips yang lainnya kunjungi kami di www.ideanakhebat.com kami punya banyak solusinya untuk Anda... ^_^

Aug 22, 2013

Melatih Rasa Kepedulian Anak

Melatih Rasa Kepedulian AnakSemaraknya aksi Peduli Mesir akhir-akhir ini yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat di Indonesia khususnya membuat saya semakin terharu. Ternyata negeri nun jauh secara jarak dan waktu bisa terasa pilu dan sakitnya sampai ke negeri kita. Bahkan mungkin orang-orang yang melakukan aksi KEPEDULIAN ini tidak mengenal siapa yang dibela di sana, namun dengan iman dan satu kata PEDULI maka semua ini terjadi. Namun sayang ada juga sebagian orang yang masih mengkritik, menghujat, bahkan menyesalkan bentuk aksi ini dengan alasan kenapa harus lelah lelah mengurusi negara orang, wong negara kita sendiri juga masih banyak masalah.. mmmffhhmm... Gak kayak gitu juga kali bro! Ada yang bilang “Kita cukup menjadi manusia saja untuk tergerak hati melakukan aksi melihat kejadian yang menimpa saudara-saudara kita.” Yaa... Aksi kan bisa berupa apa saja, aksi do’a, aksi gerak, sampai aksi membantu langsung tinggal pilih aja kok...

KEPEDULIAN??? Masih adakah di negeri kita tentang kepeduliaan ini. Pasti ada dan seharusnya ada, kita bisa terapkan itu sejak dini kepada adik-adik kita bahkan langsung kepada anak-anak kita sendiri.

Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang baik atau mengerti kesulitan orang lain. Untuk memiliki anak dengan sifat tersebut, ternyata membutuhkan waktu dan pendidikan dari orangtua. Tidak mudah memang mengajarkan anak mengerti pentingnya berbagi terhadap sesama, kecuali dengan pelatihan dan pendidikan yang dilakukan terus-menerus di rumah dan lingkungan terdekat.

Perkembangan egosentrisme anak umumnya dimulai anak pada usia 2-7 tahun, namun hal ini tergantung juga pada kematangan kognitif pada masing-masing anak dan tentu saja proses pembelajarannya yang berlangsung terus menerus. Sering kita jumpai anak-anak disekitar kita yang cuek dengan lingkungannya, sulit berempati dengan orang lain bahkan tidak peduli dengan lingkungan.

Sikap tidak peduli, umumnya dikarenakan balita masih berada pada masa egosentris yang memandang dirinya sebagai pusat dunia. Sehingga tak heran pada masa ini balita cenderung berpikir dari sudut pandang dan kepentingannya saja. Memang tak mudah mencetak anak yang punya rasa kepedulian yang tinggi. Suasana keluarga yang hangat dan saling peduli di antara anggota keluarga menjadi ajang belajar anak untuk meningkatkan sikap peduli kepada sekitarnya.

Langkah awal untuk mengajarkan anak agar bersikap lebih peduli adalah dengan menerima anak dengan kelebihan dan kekurangannya. Selain itu anak perlu diberikan contoh. Perlihatkan simpati anda pada perasaan anak atau orang lain, untuk menumbuhkan rasa empati anak pada lingkungan sekitarnya. Bicarakan dengan bahasa sederhana arti tanggung jawab dalam keluarga sehingga anak paham bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab. Berikan anak tanggung jawab ringan misalnya membereskan mainannya. Mengajak si kecil bersosialisasi juga dapat menumbuhkan sikap peduli. Dalam pergaulan, ia akan melihat pentingnya sikap berbagi dan saling memperhatikan orang lain.

Dapat Dilatih
Sikap sayang sesama dapat dilatih kepada anak dengan cara, misalnya, memberi tahu anak bagaimana harus bersikap saat berteman. Mereka juga harus diajarkan untuk mengutarakan perasaan dengan kata-kata. Bagi anak, hal itu sangat penting karena saat anak-anak segala sesuatu ingin diketahui.

Langkah lain yang harus dilakukan orangtua adalah memberikan penguatan positif pada perilaku sayang. Sebab, kebanyakan orangtua hanya memerhatikan anak ketika melakukan hal baik dan tidak baik. Anak berperilaku tidak baik karena anak merindukan perhatian orangtua. Karena itu, nyatakan penghargaan dan sayang Anda saat anak berperilaku sayang, maka dia akan lebih sering menunjukkan perilaku sayang.

Ini bertujuan untuk melatih anak agar lebih positif dalam bertindak dan bersikap. Dengan kasih sayang yang diajarkan kepada mereka, anak-anak akan mengerti kesulitan orang lain.
Hal lain yang harus diajarkan orangtua kepada anak adalah mengajarkan mereka untuk menolak perilaku yang bertentangan dengan kasih sayang. Anak-anak perlu belajar apa yang dapat atau tidak diterima untuk mencapai keinginannya. Jika untuk mendapatkan keinginannya seorang anak menyakiti atau merugikan orang lain, hal ini bertentangan dengan kasih sayang.

"Orangtua perlu menjelaskan menyakiti orang lain adalah cara yang salah".
Dengan Memberi
Langkah-langkah awal yang harus ditanamkan orangtua untuk menanamkan dan membangun munculnya rasa sayang terhadap sesama adalah dimulai dengan memberikan kasih sayang yang cukup pada anak.

Membuat anak merasa disayangi merupakan salah satu cara terbaik bagi orangtua dalam membangun munculnya rasa menyayangi orang lain. Anak yang disayang orangtuanya cenderung akan menyayangi anak lain. Sebaliknya, anak yang ditolak akan bersikap agresif, kurang mempunyai rasa sayang.

Selanjutnya, anak akan merasa dicintai jika melihat orangtua, guru, atau pendidik lainnya merasa senang atas kehadirannya. Misalnya, ketika dia masuk dalam ruangan disambut dengan senyum. Bahkan, anak akan merasa dicintai kalau kita peka terhadap kebutuhannya. Seorang anak akan tahu bahwa dia dicintai jika kesuksesannya membuat kita bersuka dan kegagalannya membuat kita berduka.

Rasa sayang yang berlimpah dari orangtua secara otomatis membuat anak memahami soal rasa itu. Si kecil juga merasakan bagaimana nyamannya disayangi dan menyayangi. Jauhi sikap kekerasan dalam keluarga, karena ini juga berdampak terhadap sikap anak nantinya. Kekerasan yang sering dilihatnya akan memengaruhinya dan mencontoh perbuatan tersebut. Alhasil, anak pun susah menyayangi sesama.

Nah, ayooo kita mulai dari saat ini untuk menerapkan sikap kepeduliaan kepada anak-anak kita tentunya dari hal-hal yang kecil sekarang juga tanpa harus menunggu sampai nanti...

Aug 15, 2013

10 Hal Yang Harus Dihindari Dalam Mendidik Anak

10 Hal Yang Harus Dihindari Dalam Mendidik Anak
Anak sebagai anugerah titipan Tuhan dan investasi bangsa yang utama seringkali hanya sebatas slogan semata. Lingkungan kondusif yang merupakan prasyarat untuk mencapai tujuan tersebut tampaknya belum sepenuhnya tercipta.

Apa yang akan terjadi jika anak dibesarkan dalam kondisi yang dipenuhi dengan kekerasan? Tentu, ia akan mencontoh cara-cara yang sering ia lihat ke dalam kehidupannya kelak. Meski tak selalu, lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, termasuk bagaimana cara orang tua mendidik anak.

Anak yang dibesarkan dalam situasi keluarga yang nyaman tentu berbeda dengan anak yang selalu diberi hukuman fisik oleh orang tuanya. Sayangnya, tak sedikit orang tua yang tidak tahu bagaimana cara memberikan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan optimal anak. Akibatnya, anak pun tumbuh tidak sebagaimana yang diharapkan.

Nah, berikut ini adalah 10 hal yang harus dihindari dalam mendidik anak :

1. Terlalu lemah. Misalnya, selalu memenuhi semua permintaan anak. Anak tidak diajar untuk mengenal hak dan kewajiban. Akibatnya, anak menjadi terlalu penuntut, impulsif (gampang melakukan tindakan tanpa perhitungan), egois, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

2. Terlalu menekan. Misalnya, orang tua terlalu mengatur dan mengarahkan anak, tanpa memperhatikan hak anak untuk menentukan keinginannya sendiri, atau untuk mengembangkan minat dan kegiatan yang mereka inginkan. Akibatnya, anak akan menjadi lamban, selalu bekerja sesuai perintah, tidak memiliki pendirian, dan suka melawan.

3. Perfeksionis. Orang tua menuntut anak untuk menunjukkan kematangan sikap atau target tertentu yang umumnya melebihi kemampuan yang wajarnya dimiliki anak. Akibatnya, anak akan terobsesi untuk meraih prestasi yang diharapkan orang tuanya. Ia juga akan menjadi terlalu keras dan kritis terhadap dirinya sendiri.

4. Tidak memberi perhatian. Jika orang tua hanya menyediakan sedikit waktu untuk memperhatikan setiap perkembangan anak, atau membantu anak menempuh tahap demi tahap perkembangannya, akibatnya, anak tak mampu membina hubungan dengan lingkungannya dan akan tumbuh menjadi anak yang impulsif.

5. Terlalu cemas akan kesehatannya. Orang tua terlalu berlebihan mencemaskan kondisi fisik anak. Padahal, secara obyektif, anak sehat. Sakit sedikit saja, orang tua cemasnya minta ampun. Akibatnya, anak akan mudah merasa tak sehat dan ikut merasakan kecemasan yang sama. Enggan bermain, takut jatuh, dan sebagainya.

6. Terlalu memanjakan. Misalnya, terus-menerus menghujani anak dengan barang-barang mahal atau memberikan pelayanan istimewa, tanpa mempertimbangkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak. Akibatnya, anak bisa menjadi anak yang gampang bosan, kurang inisiatif, dan tak memiliki daya juang.

7. Tidak pernah memberi kepercayaan. Orang tua selalu meramalkan kesalahan yang belum tentu dilakukan anak. Orang tua juga selalu mengritik anak, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu kritikan. “Kamu, sih, nanti kalau jatuh, bagaimana?” Akibatnya, anak akan menjadi seorang yang pesimis, rendah diri, dan cenderung mengembangkan hal-hal yang selalu dilarang orang tua.

8. Menolak kehadiran anak. Misalnya, jenis kelamin anak tak sesuai dengan harapan orang tua, sehingga orang tua cenderung menolak menjadikan anak sebagai bagian dari keluarga. Akibatnya, semua tindakan yang dilakukan orang tua selalu merugikan anak. Anak bisa rendah diri dan menunjukkan sikap bermusuhan terhadap orang tua.

9. Suka menghukum. Orang tua bersikap agresif terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak, dan cenderung memilih memberikan hukuman fisik dengan alasan mengajarkan disiplin. Bisa-bisa anak akan menganggap kekerasan sebagai sesuatu yang wajar dilakukan dan akan melakukan hal yang sama terhadap keluarganya kelak.

10. Suka menggoda. Orang tua cenderung melecehkan keberadaan anak dengan sering mengolok-olok dan mengungkapkan kekurangan anak di depan orang banyak. Akibatnya, anak akan merasa tidak dihargai dan rendah diri.

Nah dari kesepuluh hal yang harus dihindari itu pastinya harus menjadi perhatian bagi kita agar POTENSI HEBAT yang dimiliki oleh anak-anak kita bisa terwujud dengan nyata...



Ingin lebih mengenal POTENSI HEBAT apa saja yang ada di putra/putri Anda? Baca artikel berikut http://www.ideanakhebat.com/2013/04/potret-potensi-hebat.html

Konsultasikan juga permasalahan seputar buah hati Anda di Rubik Konsultasi Parenting. Klik disini.

Apr 19, 2013

Kenakalan Remaja = Kenakalan Orang Tua

Nakal artinya suka berbuat kurang baik (tidak menurut, mengganggu dsb, terutama bagi anak-anak). Juga berarti buruk kelakuan. Kenakalan adalah kata sifat dari nakal atau perbuatan nakal. Bisa juga berarti tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma yang berlaku di masyarakat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, 2003, hlm. 772)

Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.

Baiklah sebelum membahas lebih jauh tentang kenakalan remaja kita harus tahu definisinya terlebih dahulu.

Menurut Kartono, ilmuwan sosiologi Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang".

Menurut Santrock "Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."

Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.

Ada beberapa jenis kenakalan remaja diantaranya:
  1. Penyalahgunaan narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang)
  2. Seks bebas (Free sex)
  3. Tawuran antara pelajar
  4. Perilaku 'nakal' remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya.Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal:
Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Teman sebaya yang kurang baik
Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.


Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi kenakalan remaja

  1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
  2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
  3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
  4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
  5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

KENAKALAN ORANG TUA

Kita mungkin bosan apabila selalu membicarakan kenakalan remaja dan anak-anak. Tapi, kita jarang dengar dan membicarakan kenakalan orangtua. Padahal, kalau mau dirunut lumayan banyak juga lho kenakalan orang tua yang memang sangat berpengaruh kepada kehidupan kita. Kenakalan orangtua ini bisa diperluas bukan hanya orangtua di rumah alias keluarga kita. Tapi orangtua di masyarakat seperti guru-guru di sekolah, orang-orang dewasa di lingkungan sekitar, orang-orang dewasa yang bisa kita lihat tampilan wajah dan aksinya di televisi, orang-orang dewasa yang saban hari kita temui di sekolah kehidupan kita, termasuk dalam hal ini adalah para ortu yang menjadi pejabat di negeri ini.

Bukan maksud untuk mengejek orang tua kita. Ini sekadar renungan aja, betapa kita suka lupa bahwa kenakalan remaja tidak bisa lepas dari teladan yang sudah ada, kalau kita membicarakan kenakalan remaja sampai berbusa-busa atau menulis sampai berlembar-lembar lengkap dengan taburan faktanya, maka tidak ada salahnya juga apabila kita sedikit membahas kenakalan orangtua, sebagai bahan renungan bagi kita semua. Ya, semoga saja kita juga jadi bisa mengingatkan para ortu yang mau tidak mau memang sudah dan akan mewarnai kehidupan anak2nya saat ini. Ortu di rumah, ortu di masyarakat, dan tentunya ortu yang bertugas sebagai pengurus negara dan rakyat. Semua itu adalah ortu kita yang seharusnya menjadi teladan yang baik buat kita dalam menjalani kehidupan ini.

Kenakalan orangtua dalam ikatan keluarga

Setidaknya ada dua poin yang bisa disebut sebagai kenakalan orangtua secara umum.
Pertama, soal akhlak. Wallahu’alam, apakah karena terlalu sibuk atau tidak mengerti harus berbuat, banyak ortu di rumah yang abai dalam soal akhlak Islam yang baik ini. Padahal, anak akan belajar pertama kali dari cara ortu, karena begitu dekatnya jarak antara anak dengan ortu. akhlak ini adalah sifat yang harus dimiliki setiap muslim, Menurut Muhammad Husain Abdullah, dalam kitabnya, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm 100, disebutkan bahwa secara bahasa akhlak berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan (as-sajiyah) dan tabiat (at-thab’u). Sedangkan menurut istilah (makna syara’) akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat akhlak ini tampak pada diri seorang muslim tatkala dia melaksanakan berbagai aktivitas—seperti ibadah, muamalah, dan lain sebagainya. Tentu, jika semua aktivitas itu ia lakukan secara benar sesuai tuntunan syariat Islam.

Nah, para orang tua sebagian besar belum mengerti soal ini. faktanya ada yang begitu. Contoh di daerah perkampungan, ada orangtua yang suka ikut memprovokasi anaknya untuk bertengkar dengan temannya. Kata-kata penyemangat yang sebenarnya lebih terasa hasutan dihembuskan, “Kamu jangan mau kalah sama dia. Lawan!”, misalnya. Akibatnya, memang anak-anak di satu keluarga itu akhirnya jadi sombong dan angkuh apabila bergaul, juga kerap berbuat onar karena merasa ada legalitas secara tidak tertulis dari ortunya itu.

Kedua, mengabaikan pelaksanaan syariat. Urusan sholat seringkali jadi masalah. Pelaksanaan syariat untuk individu ini acapkali diabaikan. Kalo ortunya aja sholatnya sesukanya, atau bahkan nggak sama sekali, akan menimbulkan dampak bagi anak. Apalagi jika menyuruh atau mengingatkan anaknya saja untuk sholat nggak pernah. Wah, mungkin nggak adil juga kalo di kemudian hari nyalahin anak yang nggak sholat. Wong, orangtuanya aja nggak sholat dan nggak membimbing anaknya untuk sholat.

Pengetahuan dalam hal pelaksanaan syariat untuk individu saja, khususnya berpakaian, seringkali terabaikan oleh para orangtua. Kenakalan ortu yang (mungkin saja) tidak disengaja ini bisa membentuk karakter kita dan sudut pandang kita dalam melihat berbagai masalah. Wajar dong kalo kemudian banyak di antara temen cewek kita yang sulit dikasih tahu tentang wajibnya berjilbab kalo keluar rumah atau ada orang asing (bukan mahram) yang berkunjung ke rumahnya. Karena merasa berkerudung en berjilbab tuh kalo mo ke tempat pengajian aja. Seperti yang dicontohkan ortunya. Ini baru soal sholat dan berbusana lho (dan kebetulan memang ini yang lebih menonjol masalahnya). Kayaknya masih banyak deh pelaksanaan syariat Islam yang belum dibiasakan di tengah keluarga oleh para orangtua.

Kenakalan orangtua di masyarakat

Kita perlu tahu juga soal kenakalan ortu di masyarakat.
Pertama, menciptakan suasana yang nggak produktif. Hmm... kayaknya udah jadi rahasia umum, untuk bapak-bapak kalau mereka sudah kumpul pasti ada aja yang dilakukan yang deket-deket dengan sikap malas. Bapak-bapak apabila mereka berdua, selain ngobrol bisa juga main catur. Kalo berempat, malah ada kemungkinan main gaple. Seringnya sih begitu. Terutama kalo malam hari sambil nemani yang ronda Main catur dan main gaple ada yang bilang boleh-boleh aja kalo nggak pake duit alias judi. Cuma nggak muru’ah aja. Nggak menjaga kehormatan diri, Maklumlah, orang yang kerjanya cuma gaple aja tiap malam dicap orang pangedulan alias tukang malas. Apalagi kalo main catur or gaple itu dilakukan pagi hari di hari kerja, atau siang hari di hari kerja, kayaknya nggak enak banget dilihat deh. Kesan yang muncul kan jadinya memelihara kemalasan. Belum lagi kalo ibu-ibu. Baik mereka berdua, bertiga, berempat, bahkan rame-rame di forum arisan, tetep aja yang dilakukan adalah ngegosip. Ini umumnya

Kedua, menyediakan sarana kemaksiatan. Pemilik pabrik narkoba rata-rata ya orangtua. Mereka yang jadi bandar besar kebanyakan para orangtua. Nah, yang mengkonsumsi narkobanya, selain orang dewasa, ada juga yang remaja. Wah, bukannya ngasih pelajaran yang baik, malah menjerumuskan remaja demi keuntungan dan kepuasan materi yang ingin diraih para pengusaha barang haram itu. Orangtua di masyarakat yang kayak gini, jelas nakal dan jahat.

Selain narkoba, kita juga udah tahu kalau judi kini sudah membudaya. Mulai dari judi togel, sabung ayam, pacuan kuda, taruhan di pertandingan sepakbola, gaple yang pake duit, rolet, dan casino, sampe judi via fasilitas pengiriman SMS untuk mendukung kontestan pilihannya di ajang pencarian bakat tertentu di televisi. Ternyata mereka malah memfasilitasi sarana kemaksiatan dan tentunya mencontohkan kenakalan.

Bukan hanya narkoba dan judi, ortu di masyarakat juga malah menyediakan tempat hiburan seperti diskotik. Bukan berburuk sangka, tapi kenyataan umum yang namanya diskotik tuh identik banget dengan tempat hura-hura, tempat mangkalnya orang-orang nakal, tempat transaksi narkoba, transaksi pelacuran, dan aktivitas maksiat lainnya. Pelakunya, banyak juga yang remaja.

Ketiga, pendidik yang abai. Sekolah dan kampus boleh dibilang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar bagi kita. Namun, seringkali tak seperti tujuan awalnya. Memang, tidak semuanya jelek. Tapi, kita bicara umumnya. Misalnya, ada oknum guru yang mengajarkan asusila kepada murid-muridnya. Faktanya, kalau sempat baca-baca berita ada oknum guru yang melakukan pelecehan seksual kepada muridnya. yang begini ini bisa memicu kenakalan anak didiknya. Semoga tidak banyak ortu di masyarakat yang seperti ini.

Akhirnya baik remaja atau orang tua adalah sama-sama manusia yang tidak luput dari khilaf dan dosa,amiiin.. semoga artikel ini bermanfaat bagi semua….

Apr 5, 2013

Kenali Potensi Terbaik Anak Anda Sejak Dini

Kenali Potensi Terbaik Anak Anda Sejak Dini
Setiap orang tua mengharapkan putra putrinya menjadi anak – anak juara. Hal apapun akan dilakukan dan uang seberapa banyak pun akan diinvestasikan agar anaknya tumbuh berkembang potensinya dan menghasilkan prestasi – prestasi yang besar. Tapi kemudian pertanyaan kami adalah potensi seperti apa yang dikembangkan tersebut? Sudah tahukah persis orang tua tentang prestasi anaknya tersebut?

Kebanyakan orang tua atau bahkan sekolah tidak memiliki “peta” mengenai apa sejatinya potensi putra putrinya sehingga yang dilakukan pada akhirnya adalah “menggeneralisasi” kemampuan anaknya seperti kebanyakaan anak-anak lainnya. Anak – anaknya dituntut untuk memiliki kemampuan akademis yang baik, jadi juara matematika, juara kelas dan sebagainya padahal belum tentu potensi menonjolnya ada di area tersebut. Orang tua pun menginvestasikan uangnya lebih banyak di berbagai area karena semua area dicoba. Sehingga uang keluar banyak tapi hasil tidak maksimal.

Efek lain yang terjadi kemudian adalah anak “stress” dan “mogok” menjalani proses yang diarahkan orang tuanya dan yang paling parah adalah tidak “menjadikan” anak siapa-siapa.

Memotret Potensi Terbaik Anak Melalui Sidik Jari

STIFIn Tes Mesin-Kecerdasan
AHa Self Inspiration Center menyelenggarakan program tes potensi & kecerdasan melalui sidik jari. Tes ini memanfaatkan alat tes mesin kecerdasan STIFIn Fingerprint. STIFIn Fingerprint diperkenalkan oleh Farid Poniman dengan mengkompilasikan berbagai teori psikologi, neuroscience dan SDM. Prinsip besarnya adalah mengacu pada konsep kecerdasan tunggal C.G Jung. Sedari usia 3 tahun dapat melakukan tes ini dan ketika diulang maka hasilnya akan sama (reliabilitas tinggi).

Hasil dari tes ini akan menggolongkan peserta tes dalam tipe mesin kecerdasan dan tipe kebribadiannya. Yang dimaksud dengan mesin kecerdasan adalah belahan otak yang dominan yang mengoperasikan kerja system otak secara maksimal.

STIFIn Fingerprint adalah tes yang akan menjadikan orang tua, guru, ataupun institusi pendidikan memili “peta” potensi anak dan arah jalur pendidikan yang sesuai dengan tipe potensi mesin kecerdasan yang dominan di otaknya.

Sehingga nantinya anak akan mudah kita arahkan untuk memperoleh prestasi yang baik di sekolah dan yang terlebih penting menjadikan dia menjadi ANAK –ANAK JUARA yang paling hebat di area potensinya masing – masing.

Penyelenggaraan tes bisa dilakukan di Kantor AHa atau dapat juga dilakukan di sekolah/instansi yang bersangkutan. Tes dilakukan dalam waktu kurang dari satu menit dan hasilnya dapat ketahui sekitar 10 menit kemudian. Untuk kelas konsultasi dapat dilakukan dalam waktu yang disepakati kedua belah pihak.

Feb 7, 2013

Potret Potensi Hebat

Apa Potret Potensi Hebat ?

potret tipe kecerdasan lewat sidik jari
Potret Potensi Hebat adalah tes kecerdasan seseorang menggunakan metode tes mesin kecerdasan STIFIN yang akan menjadikan orang tua, guru, ataupun institusi pendidikan memiliki “peta” potensi anak dan arah jalur pendidikan yang sesuai dengan tipe potensi kecerdasan yang dominan di otaknya.  Konsep STIFIn Fingerprint diperkenalkan oleh Farid Poniman dengan mengkompilasikan berbagai teori psikologi, neuroscience dan SDM. Prinsip besarnya adalah mengacu pada konsep kecerdasan tunggal C.G Jung. Sedari usia 3 tahun dapat melakukan tes ini dan ketika diulang maka hasilnya akan sama (reliabilitas tinggi). Hasil dari tes ini akan menggolongkan peserta tes dalam tipe mesin kecerdasan dan tipe kebribadiannya. Yang dimaksud dengan mesin kecerdasan adalah belahan otak yang dominan yang mengoperasikan kerja system otak secara maksimal.

Manfaatnya dari tes ini banyak sekali, selain mengenali potensi menonjol pada anak juga dapat memahami cara belajar yang paling efektif untuk anak. Misalnya untuk anak dengan tipe Sensing akan bagus apabila belajar dengan menghafal. Anak tipe Thinking hebat dalam menghitung. Anak tipe Intuiting hebat dalam kreatifitas. Anak tipe Feeling hebat kalau belajar sambil berinteraksi sedangkan anak tipe insting akan sangat baik apabila belajar dalam situasi yang tenang untuk mengaktifkan potensi otak tengahnya yang menonjol (naluri).

Mengapa Anda & Ananda Perlu Tes STIFIn ?

Sedikitnya ada 4 alasan bagi Anda dan putra putri Anda memerlukan Tes STIFIn, yaitu :
  1. Menghindari INVESTASI TERBUANG, akibat ketidaktahuan potensi yang menonjol pada diri Anda dan putra putri Anda.
  2. Menemukan blue print (cetak biru) diri dan panggilan jiwa sehingga tidak salah pilih pendidikan dan salah pilih potensi.
  3. Mudah mempersiapkan profesi sejak dini dan membuat berhasil dengan cara yang sangat menyenangkan.
  4. Mengenali cara belajar, bergaul, berkarir, dan mengembangkan diri secara efektif.


Keunggulan STIFIn Fingerprint

Saat ini berkembang beraneka ragam tes analisa bakat berdasarkan sidik jari. Berikut kami sampaikan keunggulan tes STIFIn Fingerprint dibandingkan dengan tes – tes sidik jari lainnya yakni khususnya dari Brainy LAB.PTE.LTD yang saat ini berkembang di masyarakat kita.

Proses Tes STIFIn Fingerprint

tahapan tes sidik jari STIFIn

Fasilitas dan Penyelenggaraan

Investasi ini sekali seumur hidup. Artinya tidak memerlukan biaya apapun sebagai kelanjutannya karena hasil tes akan selalu sama disetiap kali pengambilan data. Fasilitas yang akan didapatkan adalah:
  1. Tes STIFIN FINGERPRINT
  2. Buku STIFIN
  3. SERTIFIKAT HASIL STIFIN
  4. Kelas Konsultasi Hasil Tes STIFIN dan arahan PETA JALUR KESUKSESAN ANAK
  5. Workshop "Smart Parenting for Smart Kid"
Penyelenggaraan Tes bisa dilakukan di Kantor AHa atau dapat juga dilakukan di sekolah/instansi yang bersangkutan. Tes dilakukan dalam waktu kurang dari satu menit dan hasilnya dapat ketahui sekitar 10 menit kemudian. Untuk kelas konsultasi dapat dilakukan dalam waktu yang disepakati kedua belah pihak.

Aug 29, 2012

Pengaruh Lingkungan Terhadap Karakter Anak

Lingkungan sangat berpengaruh bagi perkembangan karakter anak. Bila anak berada pada lingkungan yang baik maka akan dapat memberikan pengaruh yang baik pula bagi perkembangan karakter anak, dan begitu juga sebaliknya lingkungan yang tidak baik juga dapat memberikan pengaruh yang tidak baik bagi perkembangan karakter anak. 

Anda sebagai orang tua harus jeli dan pintar-pintar memilihkan lingkungan yang baik bagi anak Anda, karena akan menentukan perkembangan karakter anak Anda. Lingkungan ini dapat dimisalkan seperti lingkungan tempat Anda tinggal, lingkungan bermain anak Anda, ataupun lingkungan sekolah anak Anda.

Sebagai makhluk sosial, sejak dini memang sebaiknya anak kita kenalkan pada lingkungan masyarakat. Nah, karakter tiap-tiap kelompok masyarakat itu sendiri berbeda-beda, pasti ada yang baik dan ada yang buruk. Karena anak tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka tugas Anda sebagai orangtualah yang mengarahkannya dan mendidiknya. Artinya, Anda harus tahu benar apakah lingkungan tempat anak Anda bergaul benar-benar steril untuk perkembangan karakternya atau tidak.

Dalam proses perkembangan anak, lingkungan merupakan faktor yang sangat penting setelah pembawaan. Tanpa adanya dukungan dari faktor lingkungan maka proses perkembangan dalam mewujudkan potensi pembawaan menjadi kemampuan nyata tidak akan terjadi. Oleh karena itu fungsi atau peranan lingkungan ini dalam proses perkembangan anak dapat dikatakan sebagai faktor ajar, yaitu faktor yang akan mempengaruhi perwujudan suatu potensi secara baik atau tidak baik, sebab pengaruh lingkungan dalam hal ini dapat bersifat positif yang berarti pengaruhnya baik dan sangat menunjang perkembangan suatu potensi atau bersifat negatif yaitu pengaruh lingkungan itu tidak baik dan akan menghambat/merusak perkembangan.

Oleh karena itu, sudah menjadi tugas utama seorang pendidik untuk menciptakan atau menyediakan lingkungan yang positif agar dapat menunjang perkembangan si anak dan berusaha untuk mengawasi dan menghindarkan pengaruh faktor lingkungan yang negatif yang dapat menghambat dan merusak perkembangan sang anak.

Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat bisa juga disebut sebagai lingkungan sosial, lingkungan dimana Anda tinggal dan lingkungan dimana anak Anda berinteraksi denga orang lain yang lebih luas lagi. Anak Anda adalah bagian dari masyarakat yang saling berinteraksi satu sama lain dimana anak Anda dapat memberikan pengaruh pada lingkungannya tapi sebaliknya, anak Anda juga dapat menerima pengaruh dari lingkungan masyarakat tersebut.

Lingkungan masyarakat dapat berperan membentuk karakter anak Anda. Misalnya lingkungan tempat tinggal di asrama polisi atau tentara, anak-anak yang tinggal disana cenderung lebih berani karena mereka merasakan adanya label dari orangtuanya. Mereka juga besikap lebih semena-mena kepada teman-temannya yang lain. Lingkungan yang seperti ini akan membentuk karakter anak menjadi keras, pribadi yang galak, apa yang dia inginkan harus segera terlaksana. Ataupun dengan memilih tinggal di tengah-tengah kota besar, yang mana sesama tetangga tak saling mengenal satu sama lain, lingkungan yang seperti ini dapat membentuk karakter yang tidak baik juga pada anak Anda, anak jadi terbiasa untuk tidak peka terhadap orang lain, merasa tidak memerlukan orang lain dalam hidupnya, sikap individualismenya juga akan sangat terlihat.

Lingkungan masyarakat juga dapat berpengaruh sebaliknya yaitu berpengaruh baik bagi anak Anda. Misalnya dengan memilih tinggal di sebuah perkampungan di pinggiran kota. Yang di lingkungan tersebut terdapat masjid, para remajanya pun aktif dan antusias dalam kegiatan-kegiatan syiar agama untuk masyarakat sekitar, baik orangtua, remaja bahkan anak-anak kecil. Suasana lingkungan menjadi hidup, dinamis, agamis, harmonis serta menyenangkan hati masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut. Anak-anak Andapun terbentuk karakter yang sopan santun, beradaptasi, berempati, serta dapat menjadi manusia yang berjiwa sosial.

Lingkungan Sekolah
Sama halnya seperti lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, tentu saja jika anak Anda sudah pada masa sekolah. Oleh karena itu, Anda harus benar-benar jeli dalam memilih tempat sekolah untuk Anak. Jangan gegabah atau asal-asalan. Bagaimanapun, lingkungan sekolah akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak Anda.

Dalam memilih sekolah, hendaknya Anda memperhatikan 5 hal penting, yaitu spiritual, emosional, jasmani, intelektual dan sosialnya. Beberapa tips dalam memilih sekolah untuk anak adalah:
  1. Pilihlah sekolah yang tertib, teratur dan bersih. Tujuannya, selain untuk memperlancar proses belajar mengajar, hal ini juga akan membiasakan anak untuk hidup secara tertib dan disiplin. Jika di sekoah anak terbiasa tertib, maka di rumah anak pun juga akan tertib. Bukankah anak adalah makhluk dengan pembiasaan?
  2. Lihat output dari sekolah yang hendak Anda pilih. Carilah informasi sebanyak-banyaknya, lulusan atau alumnus dari sekolah yang hendak Anda pilih itu mampu masuk di sekolah unggulan tidak? Karena banyaknya lulusan yang bisa masuk sekolah unggulan berarti sekolah tersebut mempunyai sistem pembelajaran yang bagus.
  3. Jalin kerjasama yang baik dengan guru. Dengan kerjasama yang baik, Anda akan lebih mudah mengontrol anak Anda selama di sekolah.
  4. Pastikan bahwa lingkungan sekolah yang hendak Anda pilih aman dan baik, termasuk kualitas guru/pendidiknya. Pastikan bahwa mereka adalah tenaga pendidik yang berpengalaman dan memiliki kepribadian yang baik yang patut untuk dicontoh oleh muridnya.
  5. Pertimbangkan jarak sekolah dari tempat Anda. Sebaiknya pilih sekolah yang tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal. Karena, selain akan menghemat biaya transport, hal ini juga memungkinkan anak masih mempunyai waktu yang cukup untuk berkumpul dengan keluarga, dan bermain dengan orangtua.
Memang tidak ada yang mampu menjamin keberhasilan pembentukkan karakter pada anak Anda nantinya. Lingkungan yang baik belum tentu akan menghasilkan anak yang baik, begitu juga sebaliknya. Namun demikian, tak ada salahnya Anda berusaha, bukan?

Aug 18, 2012

9 Cara Menjadikan Anak Pintar dan Jenius

Tips atau cara menjadikan anak pintar bahkan jenius pasti banyak dicari oleh para ibu serta bapak yang mempunyai perhatian kepada buah hatinya.

Mendidik anak tidaklah mudah. Sebagai titipan Allah, anak diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal, tidak hanya secara fisik namun juga jiwa dan pemikirannya sehinga diharapkan di masa depan dapat menjadi seorang yang sukses dan berhasil.

Itulah sebabnya sedari dini perlu diperhatikan secara khusus berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan kepintaran anak agar jangan sampai terlambat dan dapat mengakibatkan ekspektasi orang tua yang begitu tinggi kepadanya menjadi sia-sia belaka.

Mudah-mudahan tips atau cara menciptakan anak pintar nan jenius ini ada manfaatnya.

9 Cara Membuat Anak Pintar

Kepintaran seorang bisa dibilang sebuah anugerah yang diberikan kepada anak tersebut. Tapi ternyata faktor yang mempengaruhi kepintaran seorang anak juga ditentukan oleh lingkungannya.

Ada banyak hal yang bisa membuat anak menjadi lebih pintar, tentunya selain dengan belajar di sekolah. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat anak menjadi lebih pintar, seperti dikutip dari MSNNews, Sabtu (1/8/2009):

1. Bermain permainan yang berpikir
Catur, teka-teki silang dan sudoku selain menyenangkan juga mendukung strategi berpikir anak-anak, bagaimana cara menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang kompleks.

2. Bermain musik
Bermain musik selain menyenangkan juga bisa merangsang pertumbuhan otak kanan. Menurut sebuah studi di Universitas Toronto, diadakannya pelajaran musik bisa memberikan keuntungan dalam meningkatkan IQ anak dan performa akademisnya. Semakin lama waktu yang digunakan untuk bermain musik maka efek yang dihasilkan juga semakin besar.

3. Pemberian ASI
ASI merupakan makanan otak yang paling dasar. Peneliti secara konsisten terus menunjukkan berbagai macam keuntungan ASI yang behubungan dengan pertumbuhan bayi. Anak yang mengkonsumsi ASI eksklusif akan memiliki tingkat kepintaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi ASI hanya beberapa bulan saja.

4. Membiasakan berolahraga
Para peneliti di Universitas Illinois menunjukkan hubungan yang kuat antara kebugaran dan prestasi akademik di antara anak-anak sekolah dasar. Semakin bugar badan sang anak maka kemampuan dalam menerima pelajaran juga meningkat. Sebaiknya mendorong anak untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau organisasi olahraga tertentu sesuai dengan minat anak.

5. Menyingkirkan makanan siap saji
Mengurangi asupan gula, lemak trans dari makanan siap saji dan menggantinya dengan makanan bergizi tinggi yang baik untuk perkembangan mental anak usia dini serta berfungsi dalam perkembangan motorik anak pada usia 1-2 tahun pertama. Contohnya anak-anak memerlukan zat besi untuk perkembangan jaringan otak yang sehat, anak yang kekurangan zat besi akan lambat dalam menerima rangsangan.

6. Mengembangkan rasa ingin tahu
Para ahli mengatakan orang tua yang menunjukkan rasa ingin tahunya pada anak akan mendorong anak untuk mencari ide-ide baru, sehingga merangsang anak untuk berpikir. Mengajari anak keterampilan baru serta pendidikan di luar rumah juga bisa mengembangkan rasa ingin tahu anak dan intelektualnya.

7. Budayakan membaca
Membaca adalah cara yang paling mudah untuk meningkatkan pembelajaran dan perkembangan kognitif anak-anak dari segala usia. Cara ini bisa dimulai dengan sering membacakan anak dongeng sebelum tidur dan sering-seringlah memberikan anak hadiah buku yang bisa menarik perhatiannya.

8. Mengajarkan kepercayaan diri
Orang tua sebaiknya meningkatkan semangat dan optimisme anak-anak. Berpartisipasi dalam tim olahraga atau kegiatan sosial akan membantu meningkatkan kepercayaan diri sang anak diantara teman-temannya.

9. Memberikan sarapan yang sehat
Para peneliti meyakinkan bahwa mengonsumsi sarapan yang sehat akan meningkatkan memori dan konsentrasi anak dalam belajar. Anak-anak yang tidak dibiasakan sarapan cenderung lebih mudah marah dan kurang konsentrasi pada waktu belajar, sementara anak yang sarapan akan tetap fokus dan bergerak selama jam sekolah

Aug 15, 2012

Bayi yang Terlahir Normal Memiliki Tingkat IQ Tinggi

Bayi Lahir Normal Miliki IQ Lebih Tinggi?

Penelitian terbaru dari Yale University, AS, menyatakan bahwa bayi yang terlahir secara normal kemungkinan besar memiliki tingkat intelejensia (IQ) yang lebih tinggi, dibandingkan dengan bayi yang lahir melalui operasi sesar.
Menurut para ilmuwan, saat ibu menjalani proses pesalinan secara normal, secara bersamaan otak bayi akan meningkatkan kadar protein yang bernama UCP2. Protein ini dapat membantu meningkatkan intelejensia bayi, seiring bertambahnya usia mereka.
Protein UCP2 pada bayi yang terlahir secara normal, dapat membantu mengembangkan daya ingat mereka. Menurut para ilmuwan ini, daya ingat adalah komponen penting pada intelegensia manusia, sebagaimana dilansir dari DailyMail.
Penemuan ini terungkap, setelah para ilmuwan melakukan penelitian terhadap beberapa bagian otak hippocampal pada beberapa ekor bayi tikus, yang terlahir secara normal dan secara sesar.
Para peneliti menyimpulkan bahwa bayi tikus yang terlahir melalui operasi sesar, memiliki kadar protein UCP2 yang lebih rendah. Hasilnya, saat dewasa, tikus ini mengalami gangguan perilaku.
Protein ini juga memiliki keunggulan untuk membantu meningkatkan peluang menyusui untuk bayi yang baru lahir. Secara bersamaan penemuan ini juga menimbulkan kontroversi mengenai proses persalinan sesar.
Dikatakan bahwa proses kelahiran secara sesar dapat meningkatkan risiko pendarahan dalam dan dapat memicu masalah reproduksi pada ibu sesudahnya.
Seorang peneliti yang hasil penelitiannya disiarkan pada jurnal kesehatan PLoS ONE, Dr Tamas Horvath, mengatakan bahwa penemuan tersebut mengungkap peranan penting protein UCP2 pada perkembangan sirkuit otak bayi yang terkait dengan perilaku.
"Meningkatnya prevalensi ibu bersalin secara sesar, dipicu oleh rasa nyaman yang mereka harapkan, dibandingkan dengan pentingnya efek jangka panjang yang berpengaruh pada perkembangan otak bayi serta fungsinya," ujar Horvarth.
Dia menambahkan, bahwa proses kelahiran secara normal memicu ekspresi protein UCP2 di dalam otak. "Ekspresi UCP2 ini hilang saat tikus dilahirkan melalui proses bersalin secara sesar," kata Horvarth.
UCP2 yang hilang, dapat menghambat kerja otak terutama hippocampal, yang terkait dengan perilaku saat seseorang beranjak dewasa. sumber