Social Icons

Sep 20, 2013

Jadi Guru Hebat Penuh Manfaat

Kagum dengan kisah perjuangan sahabatku yang merantau ke luar pulau dengan modal keyakinan untuk merubah nasib. Sudah kurang lebih 3-4 bulanan beliau berada di sana hanya lewat perbincangan di jaringan sosial aku bisa tahu keadaannya dan keluarga lah yang bisa terus kami pantau. Sesekali beliau bercerita betapa harus menjadi orang yang kuat hidup di negeri orang namun sesekali pun beliau bercerita tentang berbagai aktivitasnya di sekolah sebagai seorang guru dengan berbagai macam karakter anak dan orangtua.

Kaget saat tadi pagi kulihat statusnya yang mengatakan “ bukan hendak putus asa dengan rahmat Allah.cuma sedang putus asa dengan diri sendiri.aaaah.....useless me. useless teacher ”. Ternyata ada sedikit kecekalaan kecil yang menimpa salah satu muridnya. Mmmm... pengalaman hampir 12 tahun menjadi seorang guru dengan berbagai macam karakter siswa pastinya membuat saya ingin rasanya berbagi pengalaman, bukan ingin menggurui karena saya juga belum bisa menjadi guru yang baik tapi mudah-mudahan bisa jadi lahan sharing pengalaman yang pernah saya alami.

Setiap guru pasti ingin murid-muridnya nurut sama beliau, melakukan apa yang disuruh dengan sigap, tidak banyak bercanda saat di kelas, dan bersikap manis serta sopan kepada guru. Namun namanya anak-anak ya tetap anak-anak penuh perjuangan untuk melakukan itu bukan dengan mantra simsalabim hehe.. nah berikut beberapa tips yang mudah – mudahan bisa bermanfaat, bagaimana seorang guru benar-benar ditiru dan digugu oleh para muridnya.

1. Saat mengajar usahakan sebisa mungkin hindari terlalu banyak metode ceramah, karena itu akan membuat siswa lebih cepat bosan bahkan mengantuk (apalagi kalau Anda sebagai guru SD)

2. Berikan banyak contoh kepada para siswa tentang apa yang ingin siswa Anda lakukan. Contohnya jika Anda berharap Ia akan hormat kepada Anda maka awali Anda harus menghormatinya sebagai seorang murid dengan menjaga harga diri murid. Misalkan saat ada murid yang tertidur di kelas jangan langsung Anda membangunkan dan memarahinya karena itu akan membuat siswa akan ditertawakan oleh semua temannya dan pastinya membuat siswa Anda sakit hati. Tapi tanyalah di sela – sela waktu yang tepat

3. Jika Anda marah atau kecewa kepada siswa, biaralah dari hati ke hati bukan dengan berteriak di kelas dan didengar oleh seluruh teman – temannya.

4. Tebarkanlah senyum kepada mereka dengan tulus, sekalipun kepada siswa yang ‘bermasalah’

5. Berikan motivasi untuk bisa menjadi yang terbaik bukan malah menyindirnya dengan kata – kata yang pastinya bisa membuatnya mundur

6. Selingi proses mengajar kita dengan humoran yang tepat waktu dan tempatnya

7. Penampilan dan berkatalah yang terbaik layaknya seorang guru agar siswa kita juga berpenampilan dan bertutur kata terbaik selayaknya seorang murid

8. Jadilah sahabat bagi siswa kita di saat selingan waktu yang tepat

9. Bersabar dengan segala proses yang sedang dijalani oleh siswa kita untuk memiliki akhlaq yang baik karena tidak ada perubahan yang instan dalam melakukan perbaikan karakter

10. Berdo’alah agar siswa kita diberikan perubahan akhlaq yang baik dan kemudahan dalam menerima ilmu di setiap waktu kita.

Nah, itu dia beberapa tips bagaimana bisa menjadi guru hebat untuk siswa kita... Ingin mengetahui lebih lengkap lagi artikel seputar pendidikan yang lainnya? Ikuti artikel – artikel lainnya di www.ideanakhebat.com

Tantangan Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi

Tantangan Pendidikan Islam di Tengah Arus Globalisasi
Zaman sekarang, globalisasi menjadi hal yang pasti dan tidak dapat kita hindari. Perkembangan zaman terus menggilas kebutuhan manusia, sehingga banyak di temukan masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan moralitas dan pendidikan, terutama di wilayah perkotaan. Jika kita perhatikan, pendidikan modern saat ini memiliki kedudukan yang tepat dan dapat di unggulkan, akan tetapi jika di lihat nilai spiritualnya sangat mengkhawatirkan khususnya bagi umat Muslim.

Proses Pendidikan yang berasal dari kebudayaan, berbeda dengan kenyataan pendidikan saat ini yang cenderung mengalienasikan proses pendidikan dari kebudayaan. Kita memerlukan suatu perubahan paradigma dari pendidikan untuk menghadapi proses globalisasi.

Pada paradigma lama, upaya pendidikan lebih cenderung sentralistik. Peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan. Sebaliknya, peran institusi pendidikan dan institusi non-pendidikan masih lemah. Sementara pada paradigma baru, orientasi pendidikan lebih cenderung pada desentralistik, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat holistik; artinya pendidikan ditekankan pada pengembangan kesadaran untuk bersatu kedalam kemajemukan budaya, kemajemukan berfikir, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, kesadaran kreatif, produktif, dan kesadaran hukum. Pada paradigma baru ini terjadi peningkatan peran serta masyarakat secara kualitatif dan kuatitatif dalam upaya pengembangan pendidikan,pemberdayaan institusi masyarakat, seperti keluarga, LSM, pesantren, dunia usaha, lembaga kerja, dan pelatihan, dalam upaya pengelolaan dan pengembangan pendidikan, yang diorientasikan pada terbentuknya masyarakat madani.

Berdasarkan pandangan ini, pendidikan Islam harus di upayakan untuk:
  1. Mengalihkan paradigma yang berorientasi ke masa lalu (abad pertengahan) pada paradigma yang berorientasi ke masa depan, yaitu mengalihkan dari paradigma pendidikan yang hanya mengawetkan kemajuan, kepada paradigma pendidikan yang merintis kepada kemajuan.
  2. Mengalihkan paradigma yang berwatak feudal kepada paradigma pendidikan yang berjiwa demokratis.
  3. Mengalihkan paradigma dari pendidikan sentralisasi kepada paradigma pendidikan desentralisasi, sehingga menjadi pendidikan Islam yang kaya dalam keberagaman, dengan titik berat pada peran masyarakat dan peserta didik.
Oleh karena itu, dalam proses pendidikan, perlu dilakukan kesetaraan perlakuan sektor pendidikan dengan sektor lain, pendidikan yang berorientasi rekonstruksi sosial, pemberdayaan umat dan bangsa, serta pemberdayaan infrastruktur sosial untuk kemajuan pendidikan islam. Selain itu, pembentukan kemandirian dan keberdayaan untuk mencapai keunggulan, penciptaan iklim yang kondusif untuk tumbuhnya toleransi dan konsensus dalam kemajemukan. Dari pandangan ini, jelas bahwa dalam pendidikan islam diperlukan perencanaan terpadu secara horizontal (antarsektor) dan vertikal (antar jenjang-bottom-up dan top-down planning), dan berorientasi pada peserta didik, bersifat multikultural dengan perspektif global.

Rumusan paradigma pendidikan tersebut memberikan arah sesuai dengan arah pendidikan, yang secara makro dituntut mengantarkan masyarakat menuju masyarakat madani yang demokratis, religius, dan tangguh menghadapi lingkungan global. Untuk itu, dalam upaya pembaruan pendidikan Islam, diperlukan strategi kebijakan perubahan untuk menangkap kesempatan perubahan tersebut. Pendidikan Islam harus meninggalkan paradigma lama menuju paradigma baru.

Dengan paradigma baru tersebut, pendidikan Islam harus dapat mengembangkan kemampuan dan tingkah laku manusia yang dapat menjawab tantangan internal dan tantangan global menuju masyarakat madani. Pendidikan harus dikembangkan berdasarkan tuntutan acuan perubahan tersebut dan berdasarkan karakteristik masyarakat madani yang demikratis. Untuk menghadapi kehidupan global, proses pendidikan Islam harus mampu mengembangkan kemampuan berkompetisi, kemampuan kerjasama, mengembangkan sikap inovatif, serta meningkatkan kualitas. 

Dengan acuan ini, secara pasti akan terjadi pergeseran paradigma pendidikan, sehingga kebijakan dan strategi pengembangan pendidikan mampu untuk menangkap dan memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan tersebut. Apabila tidak, pendidikan Islam akan menjadi pendidikan yang “termarginalkan” dan tertinggal di tengah-tengah kehidupan masyarakat global.

Pergeseran drastis paradigma pendidikan sedang terjadi, dengan terjadinya aliran informasi dan pengetahuan yang begitu cepat dengan efisiensi penggunaan jasa teknologi informasi internet yang memungkinkan tembusnya batas-batas dimensi ruang, birokrasi, kemampuan, dan waktu. Pergeseran paradigma tersebut juga didukung dengan adanya kemauan dan upaya untuk melakukan reformasi total di berbagai aspek kehidupan bangsa dan Negara menuju masyarakat madani, termasuk pendidikan. Oleh karena itu pergeseran paradigma pendidikan juga di akui sebagai konsekuensi logis dari perubahan masyarakat, yaitu berupa keinginan untuk mengubah kehidupan masyarakat yang demokratis, berkeadilan, mengargai HAM, taat hukum, menghargai perbedaan dan terbuka menuju masyarakat madani.

Selanjutnya, terjadi perubahan paradigma pendidikan juga merupakan akibat dari percepatan aliran ilmu pengetahuan yang akan menantang sistem pendidikan konvensional yang antara lain sumber ilmu pengetahuan tidak lagi terpusat pada lembaga pendidikan formal yang konvensional. Sumber ilmu pengetahuan akan tersebar dimana-mana dan setiap orang akan dengan mudah memperoleh pengetahuan. Paradigma ini dikenal sebagai distributed intelligence (distributed knowledge).

.Kondisi ini akan berpengaruh pada fungsi tenaga pendidik (guru dan dosen) dan lembaga pendidikan yang “akhirnya” beralih dari sebuah sumber ilmu pengetahuan menjadi “mediator” dari ilmu pengetahuan tersebut. Proses pendidikan seumur hidup (long life learning) dalam duniapendidikan informal yang sifatnya lebih learning based daripada teaching based akan menjadi kunci perkembangan sumber daya manusia. Peranan web, homepage, CD-ROM mempercepat proses distributed knowledge. Hal ini secara langsung akan menentang sIstem kurikulum yang rigid dan sifatnya terpusat dan mapan yang kini lebih banyak dianut dan lebih difokuskan pada pengajaran dan kurang pada pendidikan. Ilmu pengetahuan akan terbentuk secara kolektif dari banyak pemikiran yang sifatnya konsensus bersama dan tidak terikat pada dimensi birokrasi atau struktural.

Dengan demikian, pendidikan Islam harus mulai berbenah diri dengan menyusun strategi untuk menyongsong dan menjawab tantangan perubahan tersebut. Apabila tidak, pendidikan Islam akan tertinggal dalam persaingan global. Untuk itu, pendidikan Islam harus memerhatikan beberapa ciri yaitu:
  • Lebih diorientasikan atau menekankan upaya proses pembelajaran daripada mengajar;
  • Diorganisasikan dalam suatu struktur yang lebih bersifat fleksibel;
  • Memeprlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri;
  • Menjadi proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan.
Keempat ciri ini, disebut dengan paradigma pendidikan sistematis-organik yang menuntut pendidikan bersifat double tracks, artinya pendidikan sebagai suatu proses yang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakat.

sumber: curhat-santri.blogspot.com

Sep 19, 2013

Mengatasi Anak Manja dan Cengeng

Bagaimana Mengatasi Anak Manja dan Cengeng
Kurang lebih sepuluh tahun ini mengajar di salah satu sekolah negeri yang ada di kota Bandung. Setiap tahun pastinya mendapatkan amanah mendidik sebagai wali kelas SD dengan berbagai karakter anak-anak. Tahun ini sangat istimewa karena saya diamanahi guru kelas rendah yang harus menerapkan tematik dalam setiap pelajaran. 

Keistimewaan lagi dan yang mebuat saya harus lebih banyak bersabar dan bersyukur adalah karena sebagian besar anak-anak angkatan sekarang lebih manja, sulit diatur, dan cengeng. Tidak terlalu kaget sich sebetulnya karena dilihat sebagian besar muridku ini adalah anak bungsu atau anak tunggal jadi yaa. Maklum lah.

Pernah suatu hari ada satu anak yang hanya gara-gara bolpointnya dipinjam temannya tanpa izin beliau langsung marah-marah dan nangis tidak berhenti sampai menjelang waktu belajar selesai. Nah, bunda... sebenarnya rasa manja atau cengeng itu wajar ga sich kalau masih anak-anak? Nah di artikel kita kali ini akan dibahas bagaimana cara kita mengatasi anak yang manja dan cengeng. Simak ya... ^_^

Perasaan marah, malu atau sedih adalah bagian dari emosi yang normal pada masa kanak-kanak. Tetapi sebagai orang tua, Anda perlu mengetahui cara meredakan emosi anak yang meluap-luap agar anak tidak tumbuh menjadi orang yang kasar, manja, atau cengeng.

Anak yang terlalu sensitif akan merespons rasa sedih, marah, kecewa dan malu dengan menangis.

Seperti dikutip dari sheknows, Kamis (8/11/2012), perhatikan 4 strategi mendidik anak dengan perasaan yang terlalu sensitif berikut ini:

1. Jangan menganggap tangisan anak sebagai suatu kesalahan
Beberapa anak yang lebih sensitif kadang mengekspresikan perasaannya tersebut dengan menangis. Tangisan anak bukanlah suatu kesalahan besar, sehingga Anda harus menghadapinya dengan tenang.

Ketika anak menangis, jangan memarahi anak dan memaksanya untuk diam. Hal ini biasanya terjadi saat Anda mengajak anak menghadiri suatu acara, kebanyakan orang tua merasa malu jika anaknya menangis berteriak hingga menjadi perhatian banyak orang. 

Yang perlu Anda lakukan adalah mengajak anak ke tempat yang lebih aman untuk menenangkan diri, menanyakan penyebab mengapa dirinya menangis dan menghindari kata-kata kasar seperti pura-pura mengancam akan meninggalkan anak di tempat tersebut jika tidak berhenti menangis.

2. Bantu anak agar merasa aman
Perasaan anak yang terlalu sensitif juga dapat ditunjukkan dengan ketakutan yang berlebihan. Yang perlu Anda lakukan adalah memberikan ruang dan waktu pada anak agar terbiasa dengan kegiatan baru yang mungkin membuatnya cemas atau ketakutan.

Menurut para psikolog, anak yang terlalu sensitif hanya perlu merasa aman dan membutuhkan dukungan dari orang tua agar dapat lebih percaya diri, sehingga mampu mengenali kekuatannya sendiri dalam berperang melawan rasa takut.

Hindari menakut-nakuti anak terhadap suatu hal seperti ada monster yang akan muncul pada tengah malam jika anak tidak segera tidur. Mungkin tujuan Anda baik, yaitu mendisiplinkan anak agar tidur pada waktu yang sama setiap harinya, tetapi cara yang Anda gunakan salah.

3. Pelajari strategi khusus untuk mengatasi kemarahan anak
Meredakan kemarahan anak sebenarnya bukan suatu hal yang sulit, cukup memberikan apa yang diinginkan oleh anak. Tetapi hal ini hanya berlaku pada satu waktu saja dan anak akan tumbuh menjadi pribadi yang manja jika semua keinginannya terpenuhi dengan mudah.

Cobalah mempelajari strategi terapi untuk mengendalikan emosi anak, misalnya dengan permainan berhitung atau melempar bola. Cara ini dapat melatih kesabaran anak sehingga anak lebih mudah mengendalikan kemarahannya dan tidak mudah menangis.

4. Meminta bantuan psikolog anak
Jika anak sering sekali marah, merasa cemas atau depresi yang melebihi sensitivitas alaminya dan tidak dapat Anda atasi dengan ketiga cara tersebut di atas, jangan mengabaikannya. Hal ini mungkin merupakan tanda-tanda masalah serius pada kondisi psikologi anak.

Perhatikan bagaimana perilaku anak ketika berada di rumah atau ketika bermain dengan teman-teman seumurannya, jika anak terus-menerus mengembangkan sikap mudah marah, Anda perlu menemui psikolog anak atau dokter yang ahli di bidang kesehatan mental.

Nah, gimana nich bunda sudah mulai terbayang bagaimana mengatasi anak-anak yang manja dan cengeng kan? Semoga cara di atas bisa bermanfaat. Buat bunda yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai potensi dan bakat hebat anak silahkan konsultasi dengan kami, kami akan membantu dengan sangat senang. Hubungi kami di www.ideanakhebat.com